Home / Religi / Ahli Ruqyah yang Gagal Meruqyah Nabi, Dhimad bin Tsa’labah Al-Azdi malah masuk Islam

Ahli Ruqyah yang Gagal Meruqyah Nabi, Dhimad bin Tsa’labah Al-Azdi malah masuk Islam

Ahli Ruqyah yang Gagal Meruqyah Nabi, Dhimad bin Tsa’labah Al-Azdi malah masuk Islam dan intisari hikmah didalamnya

dalam sebuah CatatanFaedah Ust Khidir Hafidzahulloh tulisan status Facebook yang sangat bermanfaat untuk di share…

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan shalawat semoga tersampaikan kepada Rasulullah.

Alhamdulillah saya diberikan waktu luang sehingga dapat menulis kembali nasihat berharga dari ustadz Khidir –hafizhahullah- dan dengan ini dapat tersampaikan kepada yang tidak turut hadir dan semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan pada setiap amalan yang saya lakukan dan ikhwah.

Berikut ini adalah faedah-faedah yang beliau sampaikan selama kurang lebih 37 menit. Adapun teks ini tidak 100% sama dengan apa yang beliau sampaikan namun Insya Allah tanpa mengubah makna. Adapun hadits saya kutip dari internet.

Beliau menyampaikan diselang-selang dauroh Syaikh Utsman di Depok dan Jakarta kepada rombongan Bandung di Masjid Fatahillah, Depok.

Semoga Allah menjaga kita dari buruknya kita dalam beragama.

=============

Al-Ustadz Khidir Muhammad Sunusi mengisahkan (matan hadits saya kutip dari blog seorang ikhwan):

(Ada seseorang dari kabilah Azd, bernama Dhimad bin Tsa’labah Al-Azdi. Dia adalah ahli ruqyah. Dia mendengar berita/isu)

Orang-orang bodoh Mekkah (menyebar isu), “Sesungguhnya Muhammad gila!”

Dhimad [dalam hati], “Alangkah baiknya kalau aku menemui orang ini (Muhammad). Semoga Allah menyembuhkannya dengan perantaraanku.”

(Dhimad menemui Nabi Muhammad)

Dhimad [memberi nasihat], “Hai Muhammad. Sesungguhnya aku ini adalah ahli ruqyah. Dan Allah menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki melalui perantaraanku. Apa engkau berminat untuk (diruqyah)?”
يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَرْقِي مِنْ هَذِهِ الرِّيحِ، وَإِنَّ اللهَ يَشْفِي عَلَى يَدِي مَنْ شَاءَ، فَهَلْ لَكَ؟

”Hai Muhammad, saya biasa mengobati sakit jiwa. Dan Allah menyembuhkan siapa saja yang Dia kehendaki melalui tanganku. Apa kamu bersedia?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanggapi dengan mengucapkan iya atau tidak. Tapi beliau menanggapinya dengan memuji Allah. Beliau bersabda,

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ

“INNAL HAMDA LILLAHI NAHMADUHU WA NASTA’IINUHU MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLA LAHU WA MAN YUDLLIL FALAA HAADLIYA LAHU WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH AMMA BA’DU.”

”Segala Puji Bagi Allah, kami memuji Nya, meminta kepada Nya. Barang siapa yang Allah beri petunjuk maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagi Nya dan kami bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Amma Ba’d”

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan yang sangat indah hingga membuat hati Dhimad bergetar ketika mendengar kalimat ini pertama kalinya. Dhimad keheranan.

”Tolong ulangi semua ucapanmu tadi!” pinta Dhimad.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya 3 kali.

Komentar Dhimad,

لَقَدْ سَمِعْتُ قَوْلَ الْكَهَنَةِ، وَقَوْلَ السَّحَرَةِ، وَقَوْلَ الشُّعَرَاءِ، فَمَا سَمِعْتُ مِثْلَ كَلِمَاتِكَ هَؤُلَاءِ، وَلَقَدْ بَلَغْنَ نَاعُوسَ الْبَحْرِ، هات يدك أبايعك على الإسلام، فَبَايَعَهُ

”Sungguh saya telah mendengar ucapan dukun, ucapan tukang sihir, dan penyair, dan saya belum pernah mendengar seperti ucapanmu tadi. Sungguh untaian kalimatmu mencapai kedalaman lautan. Berikan tanganmu, kubaiat kamu bahwa aku masuk islam.” Kemudian Dhimad membaiat beliau.(aku akan bersumpah setia dengan Anda untuk memeluk Islam)

Dalam Lanjutan hadis dinyatakan,

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَى قَوْمِكَ»، قَالَ: وَعَلَى قَوْمِي، قَالَ: فَبَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً، فَمَرُّوا بِقَوْمِهِ، فَقَالَ صَاحِبُ السَّرِيَّةِ لِلْجَيْشِ: هَلْ أَصَبْتُمْ مِنْ هَؤُلَاءِ شَيْئًا؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: أَصَبْتُ مِنْهُمْ مِطْهَرَةً، فَقَالَ: رُدُّوهَا، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ قَوْمُ ضِمَادٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan, ”Untuk kaummu juga.”

Dhimad mnjawab, ”Juga untuk kaumku.”

Setelah islam jaya di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus satu kompi pasukan. Ketika itu, mereka melewati kampungnya Dhimad. Sang pemimpin pasukan bertanya kepada pasukannya, ’Apakah kalian mengambil sesuatu dari mereka?’ Salah satu pasukan menjawab, ’Saya mengambil satu bejana dari mereka.’ Sang pasukan meminta, ’Kembalikan benda itu, karena mereka adalah kaumnya Dhimad.’

(HR. Muslim no. 868).

(Hadits riwayat Muslim 868)

——–

Jadi, pada awalnya Dhimad ingin menyembuhkan nabi namun setelah bertemu dengan beliau maka Dhimad lah yang menyembuhkan penyakitnya yang sesungguhnya yaitu kesyirikan.

Pada kisah diatas, Dhimad menyebutkan bahwa Allahlah yang menyembuhkan dan dia hanya sebagai perantara padahal saat itu Dhimad masih belum masuk Islam. Hal ini sebagai bukti bahwa orang-orang musyrik di zaman nabi mengakui akan rububiyyah Allah, namun keyakinan ini tidak memasukkannya ke dalam islam.

Dalam kisah ini, Dhimad telah memahami kalimat-kalimat yang datang dari utusan Allah, apalagi jika seseorang mampu memahami kalimat-kalimat yang langsung merupakan ucapan Allah yakni Al-Qur’an maka luar biasa cahaya yang akan dia miliki dan hebatnya itu merupakan sumber kehidupan yang diia peroleh.

[Mengapa?]

Karena Al-Qur’an adalah cahaya dalam kehidupan kita, sumber kehidupan dan dialah air kehidupan kita. Sebagaimana kehidupan alam ini ditentukan dua sumber utama yakni air dari hujan yang turun dan cahaya yang menerangi. Itulah fungsi al-Qur’an yang khusus, sangat utama bahkan terhebat. Siapa yang memiliki nilai-nilai tersebut maka hidupnya seperti hidupnya pohon yang tumbuh dengan sangat mengagumkan, indah, kokoh, bebas penyakit, mempesona, naungannya memberikan keteduhan/kesejukan, buahnya memberikan kenikmatan, disamping itu ia mampu membersihkan udara dan dibawahnya terdapat kehidupan. Seperti itulah Al-Qur’an. Hidup yang sebenarnya adalah siapa yang mengambil dari Rasulullah dan terkhusus Al-Qur’an.

Segala sesuatu yang mengganggu kehidupan kita, kekhawatiran, kesedihan, ketakutan maka akan sirna akan hilang dengan sumber, cahaya, dan air kehidupan yakni Al-Qur’an.

Rasulullah mengajarkan doa untuk menghilangkan gangguan sebagaiamana diatas :

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.”

Rabi’ dapat dimaknai sebagai musim semi yaitu kondisi alam terindah atau hujan yang menjadikan hati tumbuh. Al-Qur’an menjadi pelenyap kesedihan dan kegelesihan karena disitu terletak penghancur kesedihan dan kegelisihan.

Sumber kehidupan ini dapat dianggap hidup walaupun di saat ruh terpisah dari jasad karena ia memiiki hakikat kehidupan. Namun, orang kafir menolak al-Qur’an dan orang munafik bermain-main didalamnya. Waspadailah kemunafikan karena orang-orang munafik terkadang merasakan manfaat cahaya dari Al-Qur’an namun mereka tidak memiliki sumber cahaya itu sendiri dan lama kelamaan cahaya itu akan sirna.

Allah memberikan perumpamaan orang munafik ini dalam surah Al-Baqarah ayat 17-18.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لا يُبْصِرُونَ

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَرْجِعُونَ

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),”

Orang munafik ibarat orang yang meminta api kepada orang-orang baik (beriman). Mengapa mereka meminta? Karena mereka tidak memiliki cahaya namun dengan ini mereka tahu jalan, kemudian cahaya itu pergi maka mereka berada dalam kegelapan yang berlipat-lipat.

Maksud dari tuli yang sesungguhnya yaitu tidak mendengar kebenaran,

bisu yang sesungguhnya yaitu tidak mampu mengatakan kebenaran dan

buta yang sesungguhnya yaitu tidak mampu melihat cahaya Al-Qur’an padahal cahayanya lebih terang dari cahaya matahari.

Sebagaiamana Rasulullah katakan, “Kutinggalkan kalian dalam keadaan malamnya sama dengan siangnya.”

Orang munafik seperti orang yang telah melihat kebenaran kemudian meninggalkannya dan ulama’ mengibaratkannya seperti malam yang menghilangkan cahaya siang. Dia bergantung cahaya dari orang lain, mungkin ketika ada orang yang menyampaikan nasihat atau ceram ah dia bisa memahami (seperti jalan yang terang dan mampu memilih jalan) namun hatinya tidak mampu menerima, penuh kebimbangan serta tidak keinginan untuk memiliki cahaya. Cahaya (yang menyinarinya) ini tidak memiliki sumber dan bahan bakarnya, seberapa besar cahaya yang dia peroleh lama kelamaan akan lenyap. Seperti tulah keadaan orang munafik. Karena itu waspadailah jika kita hanya mendapat cahaya dari orang lain, oleh karena itu wujudkan dan upayakan cahaya untuk kita sendiri yang nantinya akan menerangi bagi kehidupan kita dan bisa melangkah bersama dengan saudara-saudara kita. Itulah makna dari ayat “tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa”. Karena hal itu mencakup semua cahaya yang disatukan sehingga kegelapan tidak akan mampu mengalahkannya.

Ya ikhwah,,

Banyak orang yang membaca ayat ini namun tidak mampu mengambil pelajarannya, ayat ini adalah perumpamaan dan perumpamaan itu sangat jelas. Tapi mengapa kita tak terpahami. Khawatir jika kita termasuk orang-orang munafik yang hanya mendapatkan penerangan dari orang lain. Allah memberikan fasilitas hati untuk menerima dan cahaya telah diturunkan dengan sempurna.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa’idah: 3]

Maka sudah sempurna agama ini, nikmat diatas segala kecukupan, agama yang disitulah letak ridha Allah dan selain itu Allah murkai.

Allah berfirman :

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ. وَطُورِ سِينِينَ . وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ . لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (At-Tiin : 1-4)

Perhatikan ayat diatas bahwa Allah bersumpah dengan tiga kali sumpah bahwa kita diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya yang hal ini merupakan nikmat yang sungguh luar biasa. Dan siapa yang mengingkari nikmat penciptaan ini maka Allah jelaskan pada ayat selanjutnya :

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (At-Tiin : 5)

Al-Ikhwah,,

Kokohlah dalam menuntut ilmu karena cahaya harus kita upayakan, kita pelajari dan kita resapkan dalam hati. Cahaya itu harus betul-betul kita siapkan bahan bakarnya, jangan sampai tidak. Inilah perjalanan seorang muslim, yakni perjalanan mengumpulkan cahaya dan diatas cahaya itulah hakikat kita hidup di akhirat sebab manusia di akhirat membutuhkan cahaya.

Orang munafik ketika diakhirat tidak mempunyai cahaya dan berkata kepada umat muslim, “aku dulu bersama kalian”,,,, ya, mereka ikut bersama umat muslim sebagaimana ketkika di dunia tapi cahaya itu bukan milik mereka. Di saat mereka membutuhkan cahaya, orang-orang beriman meninggalkan mereka sehingga mereka berada dalam kegelapan dan dihijab oleh Allah akibatnya mereka jatuh ke dalam jurang-jurang jahannam.

Mereka tertipu,,,, jarang-jarang orang memahami hal ini,,, cermati betul bahwa “hidup adalah untuk mengumpulkan cahaya dan milikilah cahaya itu sendiri jangan sampai tidak memilikinya agar tidak seperti orang munafik”.

Kembalikan semua itu dalam surah al-Ashr yang barangsiapa tidak mengamalkan maka dia celaka,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al-Ashr : 1-3)

Perhatikan ayat ini : إِلا الَّذِينَ آمَنُوا

Pada ayat tersebut, kata ilmu langsung diungkap dengan kata iman, berarti maknanya adalah “ilmu yang benar-benar tertanam bukan sekedar terhafal”.

Kalau kita sekedar menghafal ketika pengajian, “oh ini bagus,,,bagus,,, luar biasa“. Jadi kalau sekedar menghafal apakah sudah mengakar?

Kalau belum mengakar dan sekedar menghafal saja maka belum masuk pada syarat pertama,,,, cermati betul perkara ini….

Jika kita merasakan sungguh enaknya (misal dalam mendengarkan ceramah dsb) maka sungguh teramat khawatir bila kita seperti orang munafik yang juga merasakan indahnya islam padahal dirinya belum mau mengambilnya dan mengukuhkan dalam kehidupannya.

Jangan sampai hidup kita seperti ini,,, harus memiliki cahaya sendiri,,,

Setelah yakin, amalkan, kemudian dakwahkan, kemudian bersabar dalam proses hidup kita sampai ajal menjemput serta terus semangat dalam mempelajari ilmu agama Allah.

Tetapi,,, ketahuilah ya ikhwah.

Hati adalah sumber kekuatan kita,,,, yang mengatur dan yang menguasai hanyalah Allah,,, kerahkan segenap kemampuan dan tetap meminta kepada sang pemiliknya.

“Ya Muqollibal Qulub, Tsabbit Qolbi ‘ala Diinik”

Wahai yang membolak balikkan hati kokohkan hatiku diatas agama ini.

Minta terus minta,,, perbanyak doa ini kapanpun dan dimanapun apalagi saat jadi musafir,,, musafirnyapun untuk menuntut ilmu.

Perbanyak doa ini dan sebaik-baik doa adalah yang mengikutkan saudaranya,,

Ikutkan saudara kita dalam doa,,,, karena apa?

Karena jika kita menjadi sebab saudara kita mendapatkan kebaikan maka kebaikan itu akan kembali kepada kita dan ini merupakan rahasia kehebatan doa,,, banyak orang terlalaikan dengan hal ini…

KITA BISA MENDAPATKAN SESUATU YANG TERBANYAK KARENA DOA,,

Kalau dalam bisnis, orang harus terlibat dari bawah,,,, tidak ada orang yang sudah memiliki perusahaan besar dengan berpenghasilan dalam hitungan detik ratusan juta kemudian begitu enaknya menawarkan kepada kita, “Ayo,,, terserah siapa yang mau masuk mengambil bagian”.

Tentu hal ini sulit, perusahaan akan memberikan banyak persyaratan dan dia akan menjadi paling kikir untuk berbagi dalam perkara ini.

TAPI,,, TERNYATA,,,

Di dalam Islam ada perdagangan yang lebih hebat, yaitu PERDAGANGAN YANG TIDAK ADA RUGINYA.

Coba antum lihat masyaikh,,, masaikh ini ibarat perdagannya sudah sangat luar biasa,,, mereka mendunia ilmunya, pahalanya sudah sangat luar biasa,,

Jadi langsung ikut saja,, dengan itu doa antum sudah bisa ikut. Doakan mereka misalnya “Ya Allah rahmatilah syaikh, kokohkan hatinya”

Jika doa kita diterima maka kita telah terlibat kebaikan besar-besaran,, tak perlu ada perjanjian dengan syaikh (‪#‎senyum‬)

SEHEBAT APAPUN IBADAH DAN USAHA KITA UNTUK MERAIH CAHAYA TETAP MINTA PERTOLONGAN KEPADA ALLAH ADALAH KUNCI KEHEBATAN.

Oleh karena itu,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.

Jangan sampai tidak berdoa,

HARUS MEMOHON DAN MEMOHON KEPADA ALLAH SEBAB DOA TIDAK HANYA MEMBERIKAN KEKUATAN TETAPI SUMBER KEKUATAN

Meminta pertolongan berfungsi untuk menjaga amalan. Misalnya ketika kita berhasil dalam mengamalkan suatu amalan besar dan yakin bahwa itu sebab pertolongan dari Allah maka akan lahir KESYUKURAN.

Kemudian setelah berhasil,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (Ibrahim : 7)

Namun, apabila tanpa disertai dengan isti’ana (meminta pertolongan kepada Allah) maka ketika berhasil akan muncul perasaan “oh ini karena kehebatan saya atau keilmuan saya atau karena pengalaman saya”

Mengapa?

Karena beribadah tanpa diatas isti’ana dan mengandalkan kekuatannya semata,, di saat berada pada keberhasilan maka akan MENGHANCURKAN AMALAN karena ada perasaan TAKABUR.

Isti’ana adalah yang mengontrol ibadah dan ketika berada di puncak ibadah maka isti’ana ini yang akan menjaga ibadah tersebut kemudian mendorong kita untuk melakukan ibadah yang lain.

TERUSLAH MENERUS ISTI’ANA (MEMOHON PERTOLONGAN KEPADA ALLAH) SEBAGAIAMANA IBADAH HARUS TERUS KITA LAKUKAN.

Jazakumullah khairan

—————————————————-

Kemudian beliau mengajak bermajelis dengan Syaikh Utsman di Masjid Al-Muhajirin wal Anshar.

—————————————————

Faedah lain yakni beliau menyampaikan dengan begitu semangat,,, pilihan kata yang begitu indah,,, fasih dalam menyampaikan dan disertai peragaan tangan sehingga menarik hati,,, penuh senyum kebaikan,,, serta apa yang disampaikan oleh beliau terstruktur sehingga otak ini mudah mengikuti alurnya,,, padahal beliau saat itu dalam keadaan lelah, baru bangun dari istirahat serta perut belum terisi dengan makanan sebagaimana yang disampaaikan oleh guru kami Abu Umar dan masih banyak lagi yang perlu di gali dari beliau hafizahullah.

—————————————

Yang menulis ini belum yang lebih baik,,, dengan izin-Nya lah saya dapat melakukannya.

Jazakumullah khairan ustadz Khidir atas ilmu yang di sampaikan serta Abang Abu Umar yang telah mempertemukan kami dengan beliau.

Semoga tulisan ini bermanfaat,,, Barakallahu fiikum…

catatan

Ketika dakwah tauhid dan sunah banyak berkembang di Indonesia, para pembela tradisi masyarakat yang masih kental dengan syirik dan bid’ah merasa dalam kondisi terpojokkan. Mereka tidak mampu mengkritik konten dakwah pembela tauhid dan sunah. Karena tauhid dan sunah jelas yang paling sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Di saat itulah, mereka menggunakan jurus kedua, dijatuhkan karakternya. Mulailah label wahhabi dan takfiri digunakan untuk menyebut mereka. Untuk membuat masyarakat menjauh darinya.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

”Mereka membuat makar, dan Allahpun membalas dengan makar. Dan Allah sebaik-baik dalam membuat makar.” (QS. Ali Imran: 54)

Sumber dan diolah dari

1. http://muslimah.or.id/manhaj/ingin-meruqyah-nabi-malah-masuk-islam.html
2. https://www.facebook.com/CatatanFaedahUstKhidirHafidzahulloh/posts/142088459322167
3. Materi Acara Ruqyah Massal Ustad Muhammad Zunaidi di Masjid Nurul Falah Ngagel Surabaya
Ahli Ruqyah yang Gagal Meruqyah Nabi, Dhimad bin Tsa’labah Al-Azdi malah masuk Islam

Check Also

Cara Mudah Mengetahui Apakah Anda Terkena Pandangan Jahat (‘Ain)

Pada setiap penyakit non medis atau mungkin medis memiliki ciri khusus atau yang menonjol darinya  ...

...