Home / Religi / Benteng Pertahanan Musuh Jebol ,setelah mengamalkan Sunnah ini

Benteng Pertahanan Musuh Jebol ,setelah mengamalkan Sunnah ini

Aku pernah mendengar sebuah cerita dari beberapa Ustaz tentang hal2 yang menghalangi kemenangan dakwah. Mereka bercerita bahwa dalam sebuah peperangan (aku lupa perang apa namanya?) nah mencoba lebih lanjut browsing ke Google perangnya apa ternyata begini
Pada kurun ke-8 Hijrah iaitu ketika zaman Bani Abbasiah, orang Islam ketika itu sedang berdakwah di Samarkand (ibu Negara Uzbekistan). Pada waktu itu, tentera Islam telah berhasil membuka negara-negara yang bersempadan dengan Samarkand yang berhampiran dengan China.
Suatu ketika, mereka tidak dapat menembus sebuah benteng. Tentera-tentera musuh berdiri di sepanjang pintu dan dinding kota. Tak ada yang boleh keluar dan masuk. Mereka bagaikan sebuah dinding yang tidak dapat dirobohkan. Akibatnya, peperangan berkelanjutan. Tidak ada siapa yang kalah atau menang.
Maka, panglima perang Islam melalukan ‘post-mortem’ SIDAK Dan review kedalam. Perkara pertama yang ditanya ialah, “Adakah sesiapa dalam kalangan kamu yang tidak menunaikan solat?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
“Adakah sesiapa yang meninggalkan satu daripada sunnah Nabi SAW?” soalnya lagi.
Mereka terdiam. Setelah berfikir dan bertanya sesama sendiri, barulah mereka sadar bahwa mereka meninggalkan amalan bersiwak ketika berwuduk dan solat. Lantas, mereka memanjat pokok kurma dan mengambil batangnya untuk dibuat kayu sugi. Setelah itu, azan dilaungkan. Maka, mereka pun segera bersiwak sebelum berwuduk untuk menunaikan solat.
Kemudian para pasukan muslimin bergegas untuk bersiwak. Ternyata ada mata2 lawan yang melihat mereka bersiwak. Lalu mata2 tersebut melaporkan kepada rajanya. Mata2 tersebut berkata ”Lapor raja, saya tadi melihat para pasukan muslim sedang meng-Asah gigi mereka, ini berbahaya tuan raja…! Gigi mereka saja diasah higga tajam, bagaimana dengan pedang mereka, pasti lebih tajam dari pada gigi mereka…?! (kata si mata2 tersebut). Kemudian raja tersebut memerintahkan para pasukannya untuk mundur.
Sementara pasukan musuh bergerak mundur, para pasukan muslimin bergerak kembali untuk merobohkan benteng tersebut setelah menggosok gigi mereka (bersiwak). Dan akhirnya benteng tersebut roboh dengan mudah.
Jika kita mengambil kesimpulan, maka gagalnya para pasukan muslimin merobohkan benteng tersebut disebabkan karena masalah yang sepele saja. Namun berdampak sangat besar. Dengan tidak bersiwak saja kemenangan para pasukan muslimin hampir gagal, bagaimana jika para pasukan muslimin tidak mengerjakan ibadah mahdloh..? atau mereka mengerjakan dosa besar lainnya..? pasti Allah Swt, akan memberikan kekalahan pada pasukan Muslimin.
Penduduk kota itu, setelah memeluk Islam, menjadikan siwak sebagai satu amalan yang tidak ditinggalkan. Mereka ketawa mengenangkan ketakutan mereka kepada siwak. Mereka berkata, “Kami dikurniakan Islam dengan berkat sunnah bersiwak. Maka, hidupkanlah kami ya Allah dalam agama Islam dan dalam keadaan sentiasa melazimi sunnah.”
Bagaiamana tentang Sunnah Bersiwak ini

Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rosulullah adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ kepada Nabi dan mendapatkan keridhoan dari Allah Sebagaimana sabda Rosulullah r:

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ (رواه أحمد)

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi Rob”. (Hadits shohih riwayat Ahmad, irwaul golil no 66). (Syarhul mumti’ 1/120 dan taisir ‘alam 1/62)

Oleh karena itu Rosulullah r begitu bersemangat melakukannya dan sangat ingin agar umatnya pun melakukan sebagaimana yang dia lakukan, hingga beliau bersabda :

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)

Ibnu Daqiqil ‘Ied menjelaskan sebab sangat dianjurkannya bersiwak ketika akan sholat, beliau berkata: “Rahasianya yaitu bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika bertaqorrub kepada Allah, kita senantiasa dalam keadaan yang sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan mulianya ibadah”. Dikatakan bahwa perkara ini (bersiwak ketika akan sholat) berhubungan dengan malaikat karena mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Berkata Imam As-Shon’ani : “Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwasanya rahasianya adalah digabungkannya dua perkara yang telah disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir y:

مَنْ أَكَلَ الثَّوْمَ أَوِ الْبَصَالَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا لإَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ

“Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang bani Adam tergaanggu dengannya” (Taisir ‘alam 1/63)

Dan ternyata Rosulullah r tidak hanya bersiwak ketika akan sholat saja, bahkan beliau juga bersiwak dalam berbagai keadaan. Diantaranya ketika dia masuk kedalam rumah…

رَوَى شُرَيْحٌ بْنُ هَانِئِ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَيِّ شَيِءٍ يَبْدَأُ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ بَيِتَهُ ؟ قَالَتْ : بِالسِّوَاكِ (رواه مسلم)

Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata :”Aku bertanya kepada ‘Aisyah : “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rosulullah jika dia memasuki rumahnya ?” Beliau menjawab :”Bersiwak”. (Hadits riwayat Muslim, irwaul golil no 72)

Atau ketika bangun malam…

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْسُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

Dari Hudzaifah ibnul Yaman y, dia berkata : “Adalah Rosulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (Hadits riwayat Bukhori)

Bahkan dalam setiap keadaan pun boleh bagi kita untuk bersiwak. Sesuai dengan hadits di atas (السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ). Dalam hadits ini Rosulullah r memutlakkannya dan tidak mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu siwak boleh dilakukan setiap waktu (Syarhul mumti’ 1/120, fiqhul islami wa adillatuhu 1/300), sehingga tidak disyaratkan hanya bersiwak ketika mulut dalam keadaan kotor (Syarhul mumti’ 1/125).

Rosulullah r sangat bersemangat ketika bersiwak, sehingga sampai keluar bunyi dari mulut beliau seakan-akan beliau muntah

عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ قَالَ وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ بَقُوْلُ أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِيْ فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari y berkata : “Aku mendatangi Nabi r dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah“. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim)

Dan yang lebih menunjukan akan besarnya perhatian beliau dengan siwak yaitu bahwasanya diakhir hayat beliau, beliau masih menyempatkan diri untuk bersiwak sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى النَّبِيِّ وَ أَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي – وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ – فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضِمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ مِنْهُ. فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ : (فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى) ثَلاَتًا، ثُمَّ قُضِيَ عَلَيْهِ

وَ فِي لَفْظٍ: فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَ عَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ آخُذُهُ لَكَ ؟ فَأَشَرَ بِرَأْسِهِ : أنْ نَعَمْ

Dari ‘Aisyah berkata : Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik y menemui Nabi r dan Nabi r bersandar di dadaku. Abdurrohman y membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rosulullah r memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama). Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rosulullah bersiwak yang lebih baik dari itu. Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata :

فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى

Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata :”Aku melihat Rosulullah memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata : ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju. (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim)

Oleh karena itu berkata sebagian ulama : “Telah sepakat para ulama bahwasanya bersiwak adalah sunnah muakkadah karena anjuran Rosulullah r dan kesenantiasaan beliau melakukannya dan kecintaan beliau serta ajakan beliau kepada siwak tersebut.” (fiqhul islami wa adillatuhu 1/300)

cara bersiwak

Sumber:
– Qasas as-Solihin, Syeikh Hamed Ahmad Tahir
– kajian bersiwak Oleh Ibnu ‘Abidin As-Soronji
http://daimisteri.blogspot.com/2013/09/amalan-bersiwak-bersugi-menggerunkan.html

Check Also

Luar Biasa Inilah Khasiat Dari Air Nabeez "Rendaman Buah Kurma"

Luar Biasa Inilah Khasiat Dari Air Nabeez “Rendaman Buah Kurma”

Kalian pasti udah pernah dengar dengan yang namanya infus water ya guys… biasanya infus water ...

...