Home / Artikel Kesehatan / Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Apa itu gelatin?

Gelatin adalah protein asli yang diperoleh dari proses hidrolisis kulit atau tulang hewan.
Gelatin dikategorikan sebagai aditif (additive) makanan dan menggunakan E-number E441.

Jenis gelatin.

Gelatin Jenis A diproses menggunakan asid di mana biasanya adalah dari sumber kulit babi.
Gelatin Jenis B pula diproses menggunakan alkali atau air kapur. Sumber-sumber untuk pemprosesan gelatin jenis B adalah dari tulang atau kulit-kulit haiwan bovin seperti lembu, kambing dan kerbau.

Sumber gelatin

80% daripada gelatin yang dikeluarkan di Eropa adalah dari kulit babi
15% daripada kulit haiwan bovin seperti kerbau dan lembu
5% daripada tulang-tulang haiwan bovin dan khinzir/babi, ikan dan poultry
Tahukah Anda..!!
Semua Produk Obat Kapsul Menggunakan Gelatin
Apakah Kapsul Yang Anda Konsumsi Halal dan Aman..??
Struktur gelatin.

Gelatin mengandungi 18 jenis asid amino dengan kepekatan yang berbeda. Ia membentuk rangkaian polypeptide. Sembilan asid amino tersebut adalah yang diperlukan oleh badan manusia.
Seluruh struktur molekul gelatin adalah berbentuk rod yang mengandung struktur primer, sekunder dan tertiari.

Kandungan dan kelebihan gelatin

Mengandungi 84-90% protein.
Mengandungi 1-2% garam mineral.
Selebihnya adalah air.
Tidak mengandung kolesterol.
Tidak mengandung pengawet atau aditif.
Berbanding dengan agar-agar, gum arabic, locust gum yang mengandung karbohidrat.

Mengapa gelatin sangat penting?

Penggunaan gelatin telah dimulai sejak beratu-ratus tahun dahulu di negara-negara Eropa.
Penggunaannya dalam berbagai industri makanan, kosmetik, produk kesehatan dan obat-obatan.
Ia adalah produk yang alami dan menyehatkan, mudah dicerna, rendah kalori dan tidak mengandung kolesterol
Banyak penyelidikan telah membuktikan gelatin dapat membantu menyembuhkan penyakit-penyakit tulang dan sendi.

Fungsi dan kegunaan gelatin adalah sangat unik (dalam industri makanan)

Penebal (Thickener)
Pelekat (Plasticizer)
Pengemulsi (Emulsifier) biasa digunakan untuk eskrim
Pembuih (Foaming agent)
Penahan Kelembaban (Moisture retention) – digunakan dalam es krim
Pembaik tekstur (Improve texture) – digunakan dalam kosmetik
Pengikat (Binding agent) – softgel, kapsul, tablet

Nama-nama yang digunakan pada label produk

Gelatin
Gelatin Halal
Bovin Gelatin
Gum Base
Pengemulsi/Emulsifier
Penstabil/Stabilizer

Gred-gred gelatin

Food/Edible Grade
Coarse Powder
Leaf Gelatin – hotel-hotel besar suka menggunakannya, berwarna putih dan cantik, sumber daripada babi
Gelatin Hydrolisate

Pharmaceutical Grade – kapsul, softgel, tablet
Technical Grade

Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Gelatin dalam kehidupan harian anda

Industri makanan
Jelly Desserts
Gummy Jelly
Chocolate
Ice-Cream
Marshmallow
Soft Candy
Toffees, chewing gum
Yogurt, keju, butter
Produk daging
Makanan hewan (pet food)
Industri Farmaseutikal
Hard Capsules
Soft Capsules
Sugar-coated pills
Tablets
Serum substitute
Injection etc.
Industri Fotografi
Photo-film
Printing paper
X-ray Film
Photogravure Printing
Industri Kosmetik & Toileteries
Produk perawatan rambut
Produk perawatan kulit
Pengilat kulit
Lotion dan produk kecantikan
Obat gigi
Industri Teknikal
Paper manufacturing
Box making
Paper for fingerprinting
Match industry (mancis)
Industri Olahraga dan Kesehatan
Paintball
Makanan olahraga untuk para atlit seperti cereal bars, protein bars, minuman kesehatan

Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Sumber http://www.warungislamibogor.com/2012/11/gelatin-antara-manfaat-dan-bahayanya.html

Sebuah situs bernama fooduncovered menunjukkan bagaimana gelatin itu dibuat hingga kemudian menjadi makanan. Disebutkan kalau gelatin, diekstraksi terutama dari sapi, babi dan hewan lainnya, dari bagian tulang, ligamen, kulit, tendon dan sejenisnya. Situs tersebut menyebut kalau gelatin tak ubahnya seperti “tumpukan mayat tulang-tulang.”
Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Bahkan untuk gelatin yang digunakan dalam industri, disebut oleh situs tersebut diekstrak dari kulit sampah yang lebih murah. “Anda tidak ingin melihatnya, apalagi jika itu berada dalam mulut Anda,” ungkap situs itu lagi.

http://fooduncovered.org/2014/07/05/gelatin/
Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi
Waspada Cangkang Kapsul dari Babi

Obat merupakan suatu zat yang biasa digunakan untuk menyembuhkan suatu penyakit ataupun gangguan kesehatan. Obat memiliki berbagai macam bentuk sediaan serta zat aktif dan fungsinya yang berbagai macam pula. Bagi umat Islam, selain melihat kandungan zat aktif dan fungsi obat, hal yang terpenting dalam memilih obat adalah kehalalannya.

Salah satu bentuk sediaan yang menguntungkan bagi pasien adalah bentuk kapsul. Bentuk sediaan kapsul sangat menguntungkan bagi pasien karena kapsul memiliki cangkang yang dapat menutupi bau dan rasa obat yang tidak enak bagi pasien. Cangkang kapsul ada yang keras dan ada yang lunak. Untuk cangkang kapsul yang lunak dapat terbuat dari gelatin. Gelatin merupakan zat padat tidak berasa, tidak berwarna, dan tembus cahaya yang diperoleh dengan cara hidrolisis parsial kolagen. Dengan metode ekstraksi, kolagen diperoleh dari tulang, jaringan penghubung, organ, dan usus halus hewan. Biasanya gelatin ini berasal dari sapi, babi, dan kuda. Gelatin yang berbahan dasar babi inilah yang dapat membuat suatu kapsul menjadi haram bagi umat Islam.

Kupas Tuntas Gelatin ,Awas Gelatin babi

Sebenarnya Badan Pengawas Obat dan Makanantelah menetapkan bahwa di Indonesia, pembuatan cangkang kapsul tidak boleh berasal dari gelatin pada babi. Yang biasa diproduksi Indonesia adalah kapsul yang cangkangnya terbuat dari gelatin sapi. Sehingga kapsul tersebut halal untuk dikonsumsi umat Islam.

Namun perlu diketahui bahwa 80 persen obat-obat impor ternyata menggunakan cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin babi. Ada dua jenis tipe gelatin, yaitu gelatin tipe
A dan gelatin tipe B. Gelatin tipe A biasanya terbuat dari kulit babi, sedangkan gelatin tipe B biasanya terbuat dari tulang sapi.

Dalam skala dunia, gelatin dari babi lebih banyak digunakan daripada gelatin yang berasal dari sapi. Gelatin yang berasal dari babi lebih banyak digunakan di luar negeri karena harganya lebih murah. Hal ini dapat disebabkan karena biaya untuk peternakan babi lebih murah dibandingkan biaya untuk peternakan sapi. Babi juga memiliki waktu berkembangbiak yang lebih cepat dari sapi. Gelatin dapat menghasilkan lapisan tipis yang kuat dan kencang, memberikan kelenturan dan kejernihan campuran.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui bahwa suatu cangkang kapsul berasal dari gelatin babi ? Kita dapat mengeceknya dengan cara menempelkan jari tangan kita yang telah dibasahi oleh ludah ke sisi cangkang kapsul. Kemudian tunggulah kurang lebih 15 detik. Apabila cangkang kapsul menjadi lengket dan luntur di jari kita maka cangkang kapsul tersebut terbuat dari gelatin babi. Sedangkan jika cangkang kapsul tadi tidak lengket dan tidak melunturi jari kita, maka cangkang kapsul tersebut terbuat dari gelatin sapi ataupun rumput laut.

Dengan adanya fenomena di atas yaitu 80 persen cangkang kapsul di dunia terbuat dari gelatin babi, kita harus waspada dalam menggunakan kapsul sebagai obat.
Walupun Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menetapkan bahwa kapsul yang beredar di Indonesia memiliki cangkang yang terbuat dari gelatin sapi, kita harus tetap waspada jika akan membeli kapsul – kapsul impor yang sudah merupakan barang jadi.

Sebagai contoh sekarang banyak beredar obat – obat dari China yang biasanya dikemas dalam kapsul. Obat – obatan dari China telah terkenal khasiatnya yang manjur menyembuhkan penyakit. Masyarakat sekarang kurang memperhatikan kehalalan suatu produk atau obat – obatan. Masyarakat hanya melihat dari segi manfaat atau khasiatnya yang tidak diragukan lagi untuk menyembuhkan suatu penyakit. Padahal kehalalan suatu zat merupakan faktor yang penting agar zat itu tidak hanya memberi kemanfaatan secara jasmani tapi juga secara rohani. Maka kehalalan dan kemanfaatan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Padahal jelas terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 3

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ

yang artinya “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”

Namun dalam keadaan mendesak zat yang tadinya haram dapat menjadi halal. Sesuai dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 173 yang artinya “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Selagi masih ada obat atau kapsul lain yang jelas kehalalannya, sebaiknya kita hindari kapsul dari gelatin babi ini agar kemanfaatan dapat diperoleh bagi jasmani maupun rohani kita

_____________________________

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011, Tafsir Al Qur’an, http://c.1asphost.com, Selasa, 13 Desember 2011, pukul 20.00 WIB

Anonim, 2010, Gelatin Halal, Gelatin Haram, http://www.halalguide.info, Selasa, 13 Desember 2011, pukul 20.00 WIB

Fauzi, Rahmi, 2007, Gelatin, http://www.chem-is-try.org, Selasa, 13 Desember 2011, pukul 20.00 WIB

Theeas, 2011, Cara Mendeteksi Gelatin Babi pada Kapsul, http://theopage.net, , Selasa, 13 Desember 2011, pukul 20.00 WIB

Diposkan 17th September 2012 oleh Ardina Ningrum / http://adina-twins.blogspot.com

(nahimunkar.com)

 

JUAL BELI PRODUK YANG MENGANDUNG GELATIN DARI BABI
Penulis: Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, M.A. (Staf Ahli Syariah Majalah Pengusaha Muslim)

sumber : http://www.nahimunkar.com/waspadai-cangkang-kapsul-dari-gelatin-babi/

Gelatin merupakan protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen yang secara alami terdapat pada tulang atau kulit binatang seperti ; ikan, sapi dan babi.

Gelatin yang diperoleh dari babi merupakan gelatin yang paling luas dipakai dalam industri pangan dan obat-obatan, mengingat gelatin yang didapat dari hewan ini paling murah dibanding hewan lainnya.

Dalam industri pangan, gelatin dipakai sebagai salah satu bahan baku pembuatan ; permen lunak, jeli, es krim, susu formula, roti, daging olahan, minuman yang dicampur susu dan soup.
Dalam industri obat-obatan gelatin dipakai sebagai salah satu bahan baku pembuatan vaksin, cangkang kapsul, pil, krim, pasta gigi, sabun dan obat gosok.
Sebagian Negara mewajibkan para produsen untuk mencantumkan kode komposisi bahan baku dari barang olahan, kode gelatin yang berasal dari babi, antara lain : 101, 101A, 120, 150, 153, 160A, 160B, 161A, 161C, 163, 200, 270, 304, 310-312, 326, 327, 334, 336, 337, 350, 353, 422, 430, 436, 162, 470, 478, 481, 483, 491, 495, 542, 572, 575, 631, 904A. [1]

Sebelum menjelaskan hukum gelatin dari babi, harus dijelaskan terlebih dahulu hukum istihalah (perubahan suatu wujud menjadi wujud lain), seperti : wujud babi berubah menjadi garam, apakah garam tersebut hukumnya halal atau menjadi haram. Terdapat perbedaan pendapat para ulama mazhab dalam hal ini.

Para ulama mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa bila seekor babi jatuh ke dalam tambak pembuatan garam lalu mati dan berubah menjadi garam, maka garam tersebut hukumnya halal. Karena zat babi telah berubah menjadi garam dan garam hukumnya adalah halal.[2] Al-Hashkafi (ulama mazhab Hanafi, wafat 1088H) berkata : “Tidak termasuk najis abu bekas pembakaran najis, juga garam yang berasal dari bangkai keledai ataupun babi…, karena wujudnya telah berubah. Ini yang difatwakan dalam mazhab” [3]

Para ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa garam yang berasal dari perubahan wujud babi hukumnya tetap haram, karena zat babi adalah najis sekalipun najis tersebut berubah bentuk menjadi zat lain hukumnya tetap najis.

Ar-Ramli (ulama mazhab Syafi’i, wafat : 1004H) berkata : “Zat yang najis tidak berubah hukumnya secara mutlak …, dengan cara wujud najis berubah menjadi wujud lain, seperti ; bangkai babi yang jatuh ke dalam tambak garam, kemudian berubah menjadi garam” [4]

Ibnu Qudamah (ulama mazhab Hanbali, wafat : 620H) berkata : “Pendapat yang terkuat dalam mazhab (Hanbali) bahwa najis tidak menjadi suci dengan cara perubahan wujud kecuali khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya, adapun selain itu tidak menjadi suci, seperti ; najis yang dibakar sehingga menjadi abu, begitu juga bangkai babi yang jatuh ke dalam tambak garam sehingga berubah wujud menjadi garam” [5]

Dari dua pendapat ulama tentang hukum garam yang berasal dari babi dapat di-takhrij hukum gelatin yang berasal dari kulit dan tulang babi.

Para ulama yang bermazhab Syafi’i dan Hanbali tentu akan mengharamkan gelatin yang diperoleh dari babi sekalipun zat gelatin tersebut berbeda bentuk fisik dan sifat kimianya dengan kolagen babi yang merupakan asal dari gelatin.

Adapun para ulama yang bermazhab Hanafi dan Maliki, atau yang mendukung pendapat bahwa perubahan wujud dari suatu zat menjadi zat lain hukumnya juga akan berubah, namun mereka juga berbeda pendapat tentang kehalalan gelatin yang diperoleh dari babi.

Pendapat Pertama.

Gelatin yang berasal dari babi hukumnya halal, pendapat ini merupakan hasil seminar Forum Fiqh dan Medis di Kuwait pada tanggal 25-5-1995, dan di dukung oleh DR.Nazih Hamad, DR.Muhammad Al-Harawy dan Basim Al-Qarafy. [6]

Penganut pendapat ini beralasan bahwa gelatin adalah zat baru yang tidak ada persamaan fisik dan sifat kimianya dengan kolagen yang berasal dari babi, sekalipun gelatin berasal dari kolagen babi, dan dalam kaidah fiqh bahwa zat baru hukumnya berbeda dengan hukum zat asalnya, bilamana hukum kolagen adalah haram maka hukum gelatin adalah halal.

Bukti bahwa gelatin berbeda dengan kolagen adalah : Gelatin berwarna bening, mudah larut di air dan mudah membeku, tidak demikian halnya dengan kolagen. Kemudian, gelatin yang diperoleh dari babi sama sekali tidak dapat dibedakan dengan gelatin dari hewan lainnya, berbeda dengan kolagen, yang sangat mudah dibedakan antara kolagen babi dan lainnya. [7]

Tanggapan.

Argumen pendapat ini tidak kuat, karena ternyata gelatin yang berasal dari babi sangat mudah untuk diketahui melalui tes kimia sederhana, ini menunjukan bahwa proses perubahan wujud tidak terjadi dengan sempurna. [8]

Pendapat Kedua.

Gelatin yang berasal dari babi hukumnya haram dan najis, pendapat ini merupakan keputusan berbagai Lembaga Fiqh internasional, diantaranya:

1. Majma Al-Fiqh Al-Islami (OKI) keputusan no: 23 (11/3) tahun 1986 sebagai jawaban atas pertanyaan dari Al-Ma’had Al-Alami Lil Fikri Islami di Washington yang berbunyi :

Soal ke-XII : Di sini (Amerika) terdapat ragi dan gelatin yang diekstrak dari babi dalam persentase yang sangat kecil, apakah boleh menggunakan ragi dan gelatin terebut?

Jawab : Seorang muslim tidak dibenarkan menggunakan ragi dan gelatin yang berasal dari babi, karena ragi dan gelatin (halal) yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang disembelih sesuai syariat mencukupi kebutuhan mereka” [9]

2. Keputusan Al-Majma Al-Fiqhiy Al-Islamy di bawah (Rabitah Alam Islami) yang berpusat di Mekkah (no. 3, rapat tahunan ke 15) tahun 1998, yang berbunyi:

“Himpunan Fiqh Islami yang bernaung di bawah Rabitah Alam Islami dalam rapat tahunan ke-15 setelah mendiskusikan dan mengkaji bahwa : “gelatin adalah sebuah zat yang banyak digunakan untuk pembuatan makanan dan obat-obatan, berasal dari kulit dan tulang hewan ; Memutuskan :

“Boleh menggunakan gelatin yang berasal dari sesuatu yang mubah, dari hewan yang disembelih dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam. Dan tidak dibolehkan menggunakan gelatin yang diperoleh dari sesuatu yang haram, seperti ; gelatin dari kulit dan tulang babi dan dari benda haram lainnya”.

Himpunan Fiqh Islami menghimbau Negara-Negara Islam untuk memproduksi gelatin yang halal’. [10]

3. Fatwa Dewan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi (no fatwa : 8039), yang berbunyi : “Gelatin yang diperoleh dari sesuatu yang haram seperti babi, hukumnya haram” [11].

Dan pendapat ini didukung oleh sebagian besar para ulama fiqh kontemporer

Para ulama ini beralasan bahwa gelatin bukanlah zat baru yang merupakan perubahan wujud dari kolagen, akan tetapi gelatin telah ada pada kolagen babi sebelum dipisahkan, ini menunjukkan bahwa proses yang terjadi hanyalah pemisahan dan sekedar pergantian nama dan bukan perubahan wujud secara mutlak.

Dari dua pendapat di atas sikap seorang muslim hendaklah memilih yang lebih baik untuk diri dan agamanya, yaitu menghindari segala produk yang menggunakan gelatin babi sebagai salah satu bahan bakunya, karena bagaimanapun juga, asal gelatin ini adalah babi dan babi telah diharamkan Allah di dalam Al-Qur’an, adapun proses perubahan wujud menjadi zat lain masih diragukan maka hukumnya kembali kepada hukum asal babi yaitu haram, sesuai dengan kaidah hadits Nabi “ Tinggalkanlah yang meragukan kepada hal yang tidak meragukan”.

Dengan demikian, menjual segala barang/produk yang salah satu bahan dasarnya adalah gelatin babi hukumnya haram, dan hasil keuntungannya merupakan harta haram, demikian juga diharamkan seorang dokter untuk memberikan resep obat-obatan yang mengandung gelatin babi.

Sekalipun keberadaan gelatin hanya sebagai bahan campuran, hukumnya juga tetap haram, berdasarkan sabda Nabi:

إِذَا وَقَعَتْ الْفَارَةُ فِي السَّمْنِ فَإِنْ كَانَ جَامِدًا فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْ لَهَا وَإِنْ كَانَ مَا ئِعًا فَلا تَقْرَ بُوهُ

“Apabila seekor tikus (mati) jatuh ke minyak samin, jika minyak samin itu beku maka buang bangkai tikus dan bagian minyak samin yang beku yang terkena (najisnya), dan jika minyak samin itu cair maka jangan engkau dekati!” [HR Abu Daud dan Nasa’i, derajat hadits ini Hasan]

Dari hadits di atas dipahami bahwa haram mendekati minyak cair yang bercampur najis, dan menjual minyak yang najis berarti mendekatinya maka hukumnya jelas haram.

Begitu juga haram hukumnya menjual makan olahan dan obat-obatan yang telah bercampur najis (babi), karena tidak dapat dipisahkan lagi antara najis (babi) dan bahan baku lainnya yang halal.

VAKSIN YANG MENGANDUNG GELATIN BABI

Sebagaimana telah diketahui bahwa gelatin babi hukumnya adalah najis, lalu bagaimanakah hukum melakukan vaksinasi untuk kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu, seperti vaksin meningitis yang merupakan persyaratan untuk mendapatkan visa dan umrah?

Laporan dari berbagai sumber memang dinyatakan bahwa vaksin meningitis mengandung gelatin babi. Gelatin babi hukumnya najis serta haram hukumnya dimasukkan ke dalam tubuh. Maka hukum melakukan vaksin ini adalah haram.

Namun hukum haram ini bisa berubah dalam kondisi tertentu, yaitu : bila tidak terdapat alternatif lain pengganti vaksin yang mengandung gelatin babi dan kuat dugaan orang yang tidak mendapat vaksin ini akan terserang penyakit berbahaya yang berakibat kepada cacat permanen atau bahkan kematian. Maka dalam kasus ini dapat digolongkan dalam kondisi darurat.

Allah berfirman.

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” [Al-An’am : 119]

Ini berarti, Allah menghalalkan bagi hamba-Nya sesuatu yang dia haramkan dalam kondisi darurat. l

Akan tetapi jika terdapat alternatif lain pengganti gelatin babi seperti gelatin sapi maka seyogyanyalah pihak yang berwenang di sebuah Negara berpenduduk mayoritas Islam untuk memberikan pelayanan yang paripurna terhadap rakyatnya.

[Ustadz Erwandi Tirmidzi MA, saat ini sedang menempuh Doktoral di Jami’ah Al-Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, universitas terkemuka di KSA. Disalin dari Majalah Pengusaha Muslim Edisi 19 Volume 2/Agustus 2011]

_______

Footnote

[1]. Badriyah Al-Haritsy, An-Nawazil fil Athimah1, thesis di Univ.Al-Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, halaman 504

[2]. Al-Mausuah Al-Kuwaytiyyah 10/278

[3]. Al-Durr Al-Mukhtar 1/217

[4]. Nihayatul Muhtaj 1/247

[5]. Al-Mughni 1/60

[6]. Nawazil fil Athimah 1/499, Basim Al-Qarafi, Nawazil Fithaharah, thesis di Univ. Al-Imam Muhammad bin Saud, Riyadh 1/378

[7]. Ibid

[8]. Nawazil fil Athimah 1/500

[9]. Journal Fiqh Council, edisi III, vol 1409H, halaman 47

[10]. Qararat Al-Majma Al-Fiqhiy Al-Islami, hal.316

[11]. Journal Al-Buhuts Al-Islamiyah, edisi XX, vol. 1407H, hal 178

sumber :
https://www.facebook.com/notes/komunitas-pengusaha-muslim-indonesia/jual-beli-produk-yang-mengandung-gelatin-dari-babi/10150422051332111

Check Also

Tidak Cocok Dengan Pasta Gigi Biasa? Buat Sendiri Pasta Gigi Anda Di Rumah! Gigi Lebih Putih Dan Bersih!!

Tahukah Anda, bahwa selama perjalanan hidup kita, orang dewasa dapat mengkonsumsi hingga 75 liter pasta ...

...