Home / Religi / Masjid-Masjid Jin di Dunia

Masjid-Masjid Jin di Dunia

Kalau di Indonesia Ada Masjid Tiban (turen) Malang Yang konon gosipnya masyarakat , dibangun oleh bangsa jin (padahal telah dibantah oleh pemilik masjid) ,dan sampai sekarang masih jadi obyek wisata oleh masyarakat di Indonesia,

Di India juga tak mau kalah , Sebuah masjid dinamai jin di kota Lucknow, ibukota provinsi India Utara Uttar Pradesh telah menarik masyarakat disana, bahwa masyarakat berkeyakinan jika jin yang tinggal di masjid akan mengabulkan permintaan mereka.

“Ini masjid jin, makhluk lain yang tidak tampak mata ciptaan Allah, yang tinggal di sini dan juga memenuhi keinginan umat,” Pangeran Ali Hussain Mirza alias Nawab Gauhar Agha Saheb rekan Baba, pengurus masjid, kepada Hindustan Times.

Masjid Jin di Dunia tetapi Jika sampai masjid Jin itu dikunjungi masyarakat dan dipercaya bahwa jin yang berada dan tinggal disana mempunyai kemampuan untuk memenuhi keinginan para pengunjungnya , wah ini mah Syirik
jadi ingat ayat dalam

Surah Al -Jin ayat 6

6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

SEBAB TURUNNYA AYAT: Imam Ibnu Munzir, Imam Ibnu Abu Hatim dan Abu Syekh di dalam kitabnya Al-‘Azhamah mengetengahkan sebuah hadis melalui Kardam bin Saib Al-Anshari. Kardam bin Saib menceritakan, aku berangkat bersama dengan ayahku menuju ke Madinah untuk suatu keperluan. Hal ini terjadi sewaktu kami baru mendengar adanya Rasulullah saw. di kota Madinah. Di tengah jalan kami kemalaman, lalu kami terpaksa menginap di kemah seorang penggembala kambing. Ketika malam hari sampai pada pertengahannya, datanglah seekor serigala, lalu ia mencuri seekor kambing. Hal itu diketahui oleh si penggembala, lalu penggembala melompat seraya mengucapkan, “Hai penunggu lembah ini! Tolonglah tetanggamu ini.” Kemudian tiba-tiba terdengarlah ada suara yang tidak tampak orangnya, seraya mengatakan, “Hai Sarhan (penggembala)!” Tiba-tiba kambing yang dicuri serigala tadi dikembalikan kepadanya dalam keadaan terikat, lalu kambing bandot itu dikumpulkan bersama dengan kambing-kambing lainnya. Allah menurunkan ayat ini kepada Rasul-Nya di Mekah, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin…” (Q.S. Al-Jin 6) Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Raja’ dari kalangan Bani Tamim yang menceritakan, bahwa sesungguhnya aku menjadi penggembala kambing-kambing milik keluargaku dan aku menanggung beban pekerjaan mereka semuanya. Ketika Nabi saw. telah diutus, kami keluar dari kalangan keluarga kami melarikan diri. Sewaktu kami sampai di suatu padang, sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kami, yaitu apabila kami kemalaman, maka pemimpin (syekh) kami mengatakan, “Sesungguhnya kami berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin pada malam ini.” Maka kami pun mengatakan hal yang serupa. Lalu ada suara yang ditujukan kepada kami seraya mengatakan, “Sesungguhnya jalan keluar bagi laki-laki ini ialah mengucapkan kesaksian, yaitu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah. Kesaksian itu siapa pun yang mengucapkannya, niscaya darah dan harta bendanya selamat.” Lalu kami kembali, dan langsung masuk Islam. Abu Raja’ mengatakan, sesungguhnya aku berpendapat bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh aku dan teman-temanku, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambahkan bagi mereka dosa dan kesalahan…” (Q.S. Al-Jin 6 dan seterusnya) Kharaithi di dalam kitabnya yang berjudul Hawatiful Jan (bisikan-bisikan jin) mengetengahkan sebuah hadis yang teksnya berbunyi sebagai berikut, “Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Balawi, menceritakan kepada kami Ammarah bin Zaid; telah bercerita kepadaku Abdullah bin Ala’; telah bercerita kepada kami Muhammad bin Akbar. Semuanya menceritakan hadis ini melalui Sa’id bin Jubair, bahwasanya ada seorang lelaki dari kalangan Bani Tamim yang dikenal dengan nama Rafi’ bin Umair, ia menceritakan tentang keadaannya sewaktu baru masuk Islam. Untuk itu ia menceritakan, sesungguhnya pada suatu hari aku sedang mengadakan perjalanan, dan sewaktu sampai di Ramal Alij telah malam, perasaan kantuk yang sangat menguasai diriku lalu segera aku turun dari unta kendaraanku, kemudian untaku itu kutambatkan dengan kuat. Aku tidur, dan sebelum tidur terlebih dahulu aku meminta perlindungan; untuk itu aku mengatakan, ‘Aku berlindung kepada penunggu lembah ini dari gangguan jin.’ Di dalam tidurku aku bermimpi melihat seorang laki-laki yang membawa sebilah tombak kecil di tangannya, ia bermaksud untuk menusukkannya ke leher untaku. Aku terbangun karena terkejut, dan aku melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi ternyata aku tidak melihat sesuatu pun yang mencurigakan. Aku berkata kepada diriku sendiri, ini adalah mimpi buruk. Kemudian aku kembali meneruskan tidurku, dan ternyata aku kembali melihat laki-laki itu berbuat hal yang sama, maka aku terbangun karena terkejut. Aku lihat untaku gelisah dan sewaktu aku menengoknya ternyata ada seorang laki-laki muda seperti yang aku lihat di dalam mimpiku seraya membawa tombak kecil di tangannya, dan aku lihat pula ada seorang syekh (orang tua) yang sedang memegang tangan laki-laki itu seraya melarangnya supaya untaku itu jangan dibunuh. Ketika keduanya sedang saling bertengkar, tiba-tiba muncullah tiga ekor sapi jantan liar. Lalu orang (jin) yang tua itu berkata kepada jin yang muda, ‘Sekarang pergilah kamu, dan ambillah mana saja yang kamu sukai dari banteng-banteng liar itu, sebagai tebusan dan pengganti dari unta milik manusia yang aku lindungi ini.’ Lalu jin muda itu mengambil seekor sapi jantan (banteng) liar dan langsung pergi dari situ, selanjutnya aku menoleh kepada jin tua itu, dan ia berkata kepadaku, ‘Hai kamu! Apabila kamu beristirahat pada salah satu lembah, kamu merasa takut akan keseramannya, maka katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb Muhammad dari keseraman lembah ini.’ Jangan kamu meminta perlindungan kepada jin siapa pun, karena sesungguhnya hal itu adalah perkara yang batil. Aku bertanya, ‘Siapakah Muhammad itu?’ Ia menjawab, ‘Dia adalah nabi berkebangsaan Arab; dia bukan dari timur dan bukan pula dari barat, dan dia diutus pada hari Senin.’ Aku bertanya lagi, ‘Maka di manakah tempat tinggalnya?’ Ia menjawab, ‘Di kota Yatsrib yang banyak pohon kurmanya.’ Maka segera aku menaiki kendaraan untaku ketika waktu subuh telah lewat (matahari terbit) dan aku pacu untaku hingga masuk ke dalam kota Madinah. Sesampainya aku di Madinah Rasulullah saw. melihatku dan beliau langsung menceritakan tentang perihal diriku dan apa yang telah terjadi denganku sebelum aku menceritakan sepatah kata pun tentangnya. Dia mengajak aku untuk masuk Islam, maka aku pun masuk Islam.” Said bin Jubair mengatakan, “Kami telah memastikan, bahwa berkenaan dengan dialah Allah menurunkan firman berikut ini, ‘Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.'” (Q.S. Al-Jin 6) Khara’ithi mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Muqatil, sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya, “Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang banyak.” (Q.S. Al-Jin 16) Muqatil menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang kafir Quraisy, yaitu sewaktu mereka tidak mendapatkan hujan selama tujuh tahun.

Masjid Tiban (konon dibangun oleh Jin di Turen Malang )

“Siapa yang tidak menganga saat melihat langsung bangunan Masjid Tiban ?” Bangunan yang besar dengan 10 tingkatan (lantai) dengan arsitektur yang nyentrik seperti bangunan bergaya Timur Tengah menghipnotis mata saya sejauh memandang. Konon katanya pembangunan Masjid ini dibangun oleh jin. “Percaya ?”

Masjid Tiban berada dalam komplek Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaailir Rahmah di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang–Jawa Timur. Dinamakan ‘Tiban’ karena konon masjid ini ‘tiba-tiba’ ada.
Masjid Jin di Dunia
tetapi dari konfirmasi selanjutnya Pihak pendiri pesantren tersebut menjelaskan bahwa , pembangunan masjid ini adalah murni dilakukan oleh santri -santri pondok , hanya saja kebanyakan dilakukan malam hari ,disaat masyarakat sekitar sedang tertidur,hanya memang ilham pembangunannya banyak dari mimpi sang kyai , nah jadi keliru anggapan masyarakat tentang masjid turen ini,meski telah dijelaskan di media bukan dari bangsa jin yang membangun masjid ini,masyarakat terlanjur menyebut dan mengenal masjid itu dengan masjid jin tiban turen.

 

Masjid Nando Di Mali, Afrika Barat

Masjid Nando, nama masjid ini mungkin terdengar asing bagi kita, karena memang masjid ini tidak berada di Indonesia tapi di Desa Nando, Mali, Afrika Barat. Konon masjid ini dibangun oleh bangsa Jin. Keyakinan masyarakat setempat ini muncul lantaran melihat struktur bangunan masjid serta materi yang digunakan untuk membangun. Seluruhnya tampak aneh dan tidak kental nuansa mistis.

Masjid Jin di Dunia

Masjid yang terletak di kampung Nando, Mali, Afrika Barat, ini dibangun pada sekitar abad ke-12 Masehi, Yang menjadikannya masjid ini unik adalah, di bagian atap masjid tidak terdapat adanya kubah, dan Seluruh bangunan ini hanya dilapisi lumpur, termasuk lantai dalam masjid.

Masjid Jin di Dunia

Pintu Masuk Samping Masjid Nando

Bahkan bagian tepi lantai, tetap dibiarkan lebih tinggi dari bangunan yang lain dan menyerupai pinggiran benteng dengan bentuk lama. Meski demikian, pada tiap sisi dalam bangunan masjid dihiasi dengan tulisan kaligrafi yang juga terbuat dari lumpur.

Masjid Jin di Dunia

 

KISAH MASJID JIN DI MAKKAH

Masjid Jin adalah sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’la, tidak jauh dari pekuburan Kota Makkah. Penamaan masjid tersebut dengan Masjid Jin terkait erat dengan suatu peristiwa yang sangat langka dan penting yang berkaitan dengan bangsa jin dan dakwah Islam.
Masjid Jin di Dunia

Peristiwa yang dimaksud adalah masuk Islamnya serombongan jin di masjid tersebut setelah mendengar dan menghayati lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW.
Pada kesempatan itu, para jin berbaiat (berjanji setia) untuk beriman kepada Allah SWT, mengikuti ajaran Islam, dan menyebarkan agama Allah di kalangan mereka. Oleh sebab itu, masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Al-Bai’ah, yakni masjid tempat serombongan jin melakukan baiat.
Peristiwa besar ini diungkapkan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Al-Ahqaf ayat 29-32: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!”
“Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.”
“Hai kaum kami terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
Dalam suatu riwayat yang dimuat Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi yang berasal dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa peristiwa pertemuan antara Rasulullah SAW dan serombongan jin itu terjadi ketika Rasulullah SAW dan serombongan sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukkadz.
Ketika sampai di daerah Tihamah, Rasulullah SAW dan rombongannya berhenti untuk melaksanakan Shalat Fajar. Rupanya, shalat Fajar yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut mengakibatkan terhalangnya berita-berita langit yang biasa dicuri dengar oleh para syetan (jin yang kafir). Bahkan, syetan-syetan (jin-jin kafir) yang sedang mencoba mencuri berita tersebut mendapat lemparan bintang- bintang sehingga terpaksa pulang ke tempat kaumnya.
Sesampai di tempat kaumnya, syetan-syetan (jin-jin kafir) tersebut ditanya oleh kaumnya, “Apa yang menyebabkan kalian terhalang mendapat berita langit?”
Mereka menjawab, “Kami terhalang mendapatkan berita langit, bahkan kami dikejar oleh bintang-bintang.”
Kaum syetan menjawab, “Tidak mungkin ada halangan antara kita dengan berita langit. Pasti ini ada sebabnya!”
Pimpinan mereka memerintahkan, “Menyebarlah kalian ke barat dan ke timur. Carilah penghalang tersebut!”
Lalu syetan-syetan (jin-jin) tersebut menyebar ke seluruh pelosok jagad mencari penyebab terhalangnya berita langit tersebut. Sebagian di antara mereka sampai ke daerah Tihamah tempat Rasulullah SAW dan para sahabat berhenti. Ketika itu Rasulullah SAW tengah melakukan shalat Subuh.
Para jin tersebut mendengar dan memerhatikan dengan seksama bacaan Rasulullah SAW. Kemudian mereka berkata, “Demi Allah, pasti inilah yang menyebabkan kita terhalang dari berita langit.”
Mereka sangat kagum terhadap ayat-ayat Alquran yang mereka dengar. Mereka mengimaninya. Mereka lalu pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian yang mereka alami. Kaum mereka pun menerima dan mengimani ajaran yang dibawa tersebut.
Peristiwa ini pula yang melatarbelakangi turunnya Alquran surat Al-Jin ayat 1. Ayat ini menginfomasikan kepada Nabi Muhammad SAW tentang peristiwa alam gaib yang terjadi di sekeliling Rasulullah SAW dan para sahabat ketika itu. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan pemberitahuan Allah SWT tersebut kepada para sahabat dan umat Islam.
Dalam surat Al-Jin, Allah SWT memberikan informasi, “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Alquran), lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman ke padanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.”
Kata jin secara kebahasaan mengandung makna ketertutupan atau ketersembunyian. Para pakar memberikan bermacam-macam definisi tentang jin. Muhammad Farid Wajdi menyatakan jin adalah makhluk yang terbuat dari hawa atau api, berakal, tersembunyi, dapat membentuk diri dengan berbagai bentuk, dan mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat.
Sayyid Sabiq mendefinisikan jin dengan sejenis ruh yang berakal, berkehendak, mukallaf (dibebani tugas-tugas oleh Allah) sebagaimana manusia, tetapi mereka tidak berbentuk materi sebagaimana bentuk materi yang dimiliki manusia, yakni luput dari jangkauan indra atau tidak dapat terlihat sebagaimana keadaannya yang sebenarnya atau bentuknya yang sesungguhnya dan mereka mempunyai kemampuan untuk tampil dalam berbagai bentuk.
Dalam Alquran ditemukan paling tidak lima kata yang digunakan untuk menunjuk makhluk jin, yaitu jin, jan, jinnat, iblis, dan syaithan. Kata iblis dimasukkan ke dalam kata-kata yang menunjukkan jin karena pada hakikatnya iblis tergolong jenis jin.
Kata syaithan termasuk juga yang menunjuk kepada makna jin karena syaitan itu terdiri dari jin dan manusia. Sedangkan kata khannas merupakan salah satu macam syaitan yang juga terdiri dari manusia dan jin.
Jin tercipta dari bahan dasar berupa api, berkembang biak, dan membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Jin diciptakan oleh Allah berpasangan. Ada jin laki-laki atau jantan dan ada pula jin perempuan atau betina. Jin mempunyai keinginan dan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual.
Oleh sebab itu, jin juga dapat melahirkan keturunan dan selanjutnya membentuk kelompok atau masyarakat jin. Jin mempunyai beberapa kemampuan yang di antaranya melebihi kemampuan yang dimiliki manusia. Misalnya, jin dapat menjelajahi ruang angkasa dan menyadap berita-berita langit.
Jin juga mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Di antara tentara dan pekerja Nabi Sulaiman, terdapat golongan jin dan syaitan yang bertugas melakukan beberapa jenis pekerjaan berat, seperti mendirikan bangunan, patung-patung, piring-piring besar, dan menyelami lautan.
Pada dasarnya, jin tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Hal ini didasarkan kepada firman Allah dalam surat Al-A’raf: 27, “… sesungguhnya ia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka…”
Para ulama memandang ayat ini sebagai dalil yang sangat kuat tentang tidak mungkinnya manusia melihat jin. Imam Syafi’i bahkan berkata, “Barangsiapa yang mengaku melihat jin, maka ditolak kesaksiannya, kecuali Nabi.”
Rasyid Ridha juga menegaskan, “Barangsiapa yang mengaku melihat jin, maka itu hanya ilusi atau ia melihat binatang aneh yang diduganya jin.”
Ketidakmampuan manusia melihat jin dan kemampuan jin melihat manusia adalah karena berbedanya unsur kejadian manusia dan jin. Manusia adalah makhluk kasar, sedangkan jin adalah makhluk halus. Sesuatu yang halus dapat melihat yang kasar, tidak sebaliknya.
Sementara itu ada pula ulama yang menyatakan kemungkinan jin dapat dilihat oleh manusia. Allah dapat saja memberikan kemampuan istimewa kepada orang tertentu, sehingga mampu melihat makhluk halus.
Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 27 di atas tidak menafikan kemampuan melihat jin secara mutlak. Ayat itu hanya mengatakan bahwa manusia tidak dapat melihat jin pada suatu tempat, atau suatu keadaan, atau suatu waktu ketika jin melihat manusia. Namun, selain itu tidak tertutup kemungkinan manusia dapat melihat jin.
Ulama lain berpendapat bahwa jin hanya dapat dilihat oleh para nabi atau hanya pada masa kenabian. Ketika itu, Allah mengubah mereka menjadi makhluk kasar. Sekarang tidak bisa lagi.
Kedua pendapat yang terakhir menurut Quraish Shihab terkesan seperti dibuat-buat. Pendapat lain yang agaknya bisa diterima adalah bahwa jin dapat dilihat manusia jika jin berubah mengambil bentuk makhluk yang dapat dilihat manusia. Hal ini tidak terbatas bagi orang atau waktu tertentu, tetapi bisa terjadi pada siapa pun dan kapan- pun jika kondisi memungkinkan.
Dalam hal pembebanan tanggungjawab melaksanakan ajaran-ajaran agama, terdapat kesamaan antara manusia dan jin. Manusia dan jin sama-sama dibebani oleh Allah SWT dengan seperangkat perintah dan larangan yang terangkum dalam ajaran agama yang disampaikan oleh para rasul-Nya.
Allah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Pada surat Al-An’am ayat 130 Allah berfirman, “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepada terhadap pertemuanmu dengan hari ini?”
Dalam menerima dan menjalankan ajaran agama tersebut, sebagaimana manusia, kalangan jin berbeda-beda sikap. Ada yang beriman, ada pula yang kafir. Ada yang taat, ada pula yang ingkar. Dalam surat Al-Jin ayat 11,13, dan 14 terdapat informasi dari kalangan jin sendiri tentang keadaan jin yang demikian.
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesung-guhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam.”

Masjid Jin di Dunia
Bangsa jin sebagaimana yang dijelaskan di ataslah yang bertemu dengan Rasulullah SAW di kampung Ma’la di dekat daerah Tihamah. Untuk mengabadikan peristiwa unik dan penting tersebut, dibangun sebuah masjid berukuran sedang yang dikenal dengan nama Masjid Jin.

sumber :
http://www.onislam.net/english/news/asia-pacific/487229-indias-mosque-of-jinn.html
https://rahayuasih.wordpress.com/2015/02/27/misteri-dibalik-pembangunan-masjid-tiban-turen-malang/
dan dari berbagai sumber tambahan Admin

Check Also

Inilah 16 Alasan Medis Gerakan Shalat Sangat Baik Untuk Kesehatan Tulang

Sebuah studi di Barat baru-baru ini menyatakan bahwa mendirikan shalat ternyata mampu menyehatkan tulang belakang. ...

...