Home / Artikel Kesehatan / Ternyata pasien itu Perlu diberi Efek Placebo

Ternyata pasien itu Perlu diberi Efek Placebo

Plasebo, secara harafiah berarti “I will please“, sebenarnya telah diperkenalkan sejak Abad ke-17 silam. Ada satu kutipan terkenal dari Thomas Jefferson yang bunyinya seperti ini:

“One of the most successful physician I have ever known has assured me that he used more bread bills, drops of coloured water, and powders of hickory ashes, than of all other medicines put together.“
Semua orang tidak ada yang suka dengan penyakit, tetapi dalam proses hidup ini tidak ada manusia yang sehat selamanya, manusia mulia seperti Rasulullah pun pernah sakit. Sampai saat ini sudah ditemukan berbagai macam obat kimia dan obat herbal, tetapi tidak untuk semua penyakit. Obat ini untuk sakit ini dan obat itu khusus untuk penyakit itu dan seterusnya. Tapi tahukah anda ada suatu zat/obat untuk semua jenis penyakit dan ternyata 100% tanpa efek samping pada pemakaian normal.

Plasebo (dari bahasa Latin yang artinya “saya harus nyaman” atau “saya akan senang”) makna ini mengacu pada suatu fakta bahwa suatu keyakinan atas efektivitas dari suatu penanganan/pengobatan akan dapat membangkitkan harapan yang membantu mereka/pasien untuk menggerakkan diri sendiri agar menyelesaikan suatu masalah/penyakit yang dialami tanpa melihat apakah substansi yang mereka terima adalah aktif secara kimiawi atau tidak. Pada dasarnya placebo merupakan proses pengobatan dengan sugesti tapi efek menyembuhkannya bisa lebih dahsyat dari obat sebenarnya.Apakah placebo itu yang disebut sebagai obat semua jenis penyakit ?

Imajinasi otak tentang keyakinan atas sesuatu hal akan menyembuhkan yang tertanam pada otak bisa memberikan perubahan biologis dan mempengaruhi tingkat pesan kimiawi dan hormon stres yang menandakan rasa sakit dan kesenangan. Emosi juga dapat mempengaruhi perubahan psikologi. Contoh yang terjadi di Indonesia adalah anak yang terkena sakit batuk dan sesak biasanya akan akan menangis yang membuat saluran udara mengeras sehingga menyulitkan bernapas. Banyak orang percaya bahwa dengan kabut/embun dingin di pantai pada pagi hari akan dapat menyembuhkan dan ternyata banyak yang membuktikannya. Namun ketika diteliti tenyata hal tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya antara embun pagi di pantai dengan kesembuhan sesak napas. Adanya efek plasebo menunjukkan pentingnya keyakinan, pikiran, dan jiwa kita dalam proses penyembuhan. Itulah sebabnya mengapa kita harus yakin pada obat yang diberikan dokter dan Apoteker. Keyakinan itu akan membuat kita sudah 50% dari proses penyembuhan apa lagi jika disertai dengan ber’doa kepadaNya meminta kesembuhan sebelum minum obat.

Pernah dengar istilah Efek Placebo dan Efek Nocebo? Dua istilah berseberangan ini sangat dekat dengan pengaruh seorang pasien. Placebo dalam bahasa latin berarti saya akan senang, namun jika dikaitkan dengan kesehatan, Efek Placebo ini sering juga disebut fake treatment.

Fake treatment, bukan berarti obat yang digunakan adalah palsu. Namun, lebih ke arah „sugesti“ yang dimiliki oleh seorang pasien dan pengaruhnya terhadap proses kesembuhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang pasien bisa menjadi sembuh dan sebaliknya karena sugesti. Ada yang merasa lebih baik karena makan obat tertentu padahal obat itu tidak bekerja dengan sempurna, ini yang disebut Efek Placebo (positif). Sebaliknya, karena sudah terlebih dahulu mengetahui efek kurang baik dari obat tertentu, seorang pasien merasakan gejala tersebut benar-benar terjadi dalam tubuhnya, ini disebut Efek Nocebo (negatif).

Karena alasan itu juga, seorang tenaga medis biasanya akan memilih kata-kata yang baik dan tepat saat menyampaikan hasil test laboratorium atau analisa kepada pasien. Seperti dikatakan Dr.Winfried Hauser, seorang peneliti Jerman tentang Efek Placebo, “Ini bukan hanya karena kekuatan kata negatif yang dipakai dokter dan perawat, tapi juga kekuatan pikiran negatif dan ketakutan pasien.”
Efek PLACEBO yang terkenal di dunia antara lain :

Profesor Tony Dickenson melakukan suatu percobaan dengan memberikan kejutan listrik terhadap 6 orang mahasiswa. Mereka dibagi menjadi 2 kelompok, yang akan diberi 2 macam obat, yaitu obat pengurang rasa sakit dan obat penambah rasa sakit. Dengan level sengatan listrik yang sama, kelompok yang memakan obat penambah rasa sakit merasakan rasa sakit lebih dari sebelum mereka memakan obat. Sedangkan kelompok yang memakan obat pengurang rasa sakit dapat menahan rasa sakit lebih lama dan merasa bahwa sengatan listrik berkurang.

Tapi tahukah anda, bahwa ternyata mereka sama sekali tidak diberikan obat pengurang rasa sakit atau pun obat penambah rasa sakit. Kedua obat tersebut sebenarnya sama, yaitu hanyalah tepung dan gula yang diberi pewarna berbeda. Itulah yang disebut efek placebo. Lantas apa yang membuat mereka merasa lebih sakit atau berkurang sakitnya? Pikiran mereka lah yang membuat obat placebo tersebut bekerja seperti obat sesungguhnya.

Kisah lainnya adalah :

Selain contoh di atas, banyak sekali contoh yang ditemukan di sepanjang sejarah hingga saat ini yang mendokumentasikan kekuatan pikiran untuk penyembuhan. Percobaan placebo kali pertama dilakukan pada 1801. John Haygarth, seorang dokter abad ke-18 asal Inggris, menyatakan bahwa eksperimen tersebut dengan jelas membuktikan efek yang amat luar biasa dari suatu harapan dan keyakinan, antusiasme hanya berdasarkan imajinasi, dapat dilakukan pada suatu penyakit.

Di penghujung 1950-an, saat itu ada keyakinan bila pembedahan untuk mengikat arteri kelenjar susu dapat meredakan penyakit jantung. Untuk menguji efek placebo, beberapa pasien mengalami pembedahan lengkap sedang lainnya hanya menerima irisan di kulit, namun tidak dilakukan pembedahan lebih lanjut. Pada kedua percobaan, tingkat penyembuhannya sama. Pembedahan semacam ini pun lantas ditinggalkan.

Studi pada 1968 pada Pengobatan Psikosomatik menguraikan bagaimana suatu kesan dapat mempengaruhi serangan asma. Peneliti meminta pasien untuk menghisap substansi tanpa label yang diberitahukan pada mereka jika substansi tersebut akan mengganggu asma mereka untuk sementara. Ketika pasien menghisapnya, banyak yang mengalami serangan asma. Mereka mulai mendesah, kesulitan bernafas, dan terengah-engah meskipun substansi yang mereka hisap adalah larutan garam yang tidak berbahaya. Kemudian, peneliti memberi pasien tersebut “penawar racun” yang dibuat dari larutan garam yang sama persis, dan menyaksikan bila napas yang mendesah dan berat telah berhenti.

Pada 1983 wawancara dengan Bapak Terapi Tertawa, Normandia Cousins, membahas artikel di halaman depan LA Times tentang permainan sepak bola SMU di mana empat orang menerima makanan yang mengandung racun. Dokter yang menangani kasus ini tidak tahu dengan pasti penyebabnya, sehingga mengeluarkan pernyataan umum untuk menghindari mesin penjual soft drink. Saat pengumuman ini dibuat, 191 orang menjadi sangat sakit, dan pergi ke rumah sakit setelah mereka meminum soft drink dari mesin penjual otomatis.

Suatu studi di Sekolah Kedokteran Baylor, yang diterbitkan pada 2002 di Jurnal Kedokteran Inggris mengevaluasi tindakan pembedahan pada pasien penderita sakit lutut yang parah. Ketua tim penulis Dr. Bruce Moseley, mengetahui bila pembedahan lutut akan dapat membantu pasiennya. Semua ahli bedah mengetahui tidak ada efek placebo pada pembedahan. Tetapi Moseley mencoba untuk memahami bagian mana dari tindakan pembedahan yang meringankan pasiennya.

Para pasien dibagi menjadi tiga kelompok. Pada kelompok pertama, Moseley mengangkat tulang rawan yang rusak di lutut. Pada kelompok lain, dia membersihkan sendi lutut, menyingkirkan material yang dianggap menyebabkan efek peradangan. Kedua perawatan standar ini biasanya diberikan pada penderita encok lutut. Kelompok ketiga menjalani bedah pura-pura sebagai kontrol untuk membandingkan hasil pembedahan lainnya. Ketiga kelompok mendapatkan perawatan paska operasi yang sama, termasuk program pelatihan. Namun hasilnya sungguh mengejutkan. Kelompok yang menjalani tindakan pembedahan, seperti yang diharapkan, membaik. Tetapi kelompok yang mendapatkan pembedahan Placebo juga membaik seperti dua kelompok lainnya.

Program acara televisi secara nyata menggambarkan hasil yang mengundang perhatian. Acara tersebut menunjukkan anggota kelompok placebo sedang berjalan dan bermain basket, ketika melakukan hal-hal tersebut mereka menyampaikan tidak dapat melakukannya sebelum dilakukan tindakan pembedahan. Pasien dalam kelompok Placebo tidak mengetahui bila selama dua tahun mereka telah mendapat pembedahan pura-pura. Satu anggota kelompok Placebo, Tim Perez, yang berjalan dengan bantuan rotan sebelum pembedahan, kini mampu bermain basket dengan cucunya.

Berangkat dari pemikiran ini, harapan memang memainkan peran dalam kesembuhan seseorang. Harapan sembuh bisa muncul saat si pasien berpikir positif bahwa obat akan bekerja dengan baik, bahwa dokter bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan memberi kesembuhan. Banyak study dilakukan untuk meneliti pengaruh Efek Placebo ini, dan sampai saat ini, selain penemuan medis yang semakin modern, apa yang dikatakan pemikiran terdahulu “Where there is hope, there is life.” masih tetap berlaku. Dan saya yakin, masyarakat kita yang dikenal sebagai masyarakat yang religius, tentu memegang pemikiran ini dengan baik. Harapan. (Semoga).
Obat semua jenihttp://farmasi.ump.ac.id/index.php/2014-09-24-16-40-36/artikel/8-obat-semua-penyakits penyakit itu adalah keyakinan pikiran, dan jiwa yang kuat dan bersih atas kesembuhan yang diberikan oleh-Nya melalui placebo yang sebenarnya tidak berefek apa-apa, karena hanya dari-Nya Penyakit dan Obatnya berasal.

sumber
http://farmasi.ump.ac.id/index.php/2014-09-24-16-40-36/artikel/8-obat-semua-penyakit
https://firmanpratama.wordpress.com/2011/06/23/placebo-merupakan-efek-dari-pikiran/

tambahan diolah dari berbagai sumber

Check Also

Wow..Ternyata Warna Darah Haid Dapat Mengidentifikasi Penyakit Yang Ada Didalam Tubuh

Wow..Ternyata Warna Darah Haid Dapat Mengidentifikasi Penyakit Yang Ada Didalam Tubuh

Ladies….pada saat kamu haid, pernah kah memperhatikan warna darah yang keluar? Awal haid biasanya akan ...

...