Home / Tehnik Pengobatan / Ruqyah Syariyah / Anak Saya Bandel Dan Melawan orang Tua ,Apa harus DiRuqyah?

Anak Saya Bandel Dan Melawan orang Tua ,Apa harus DiRuqyah?

assalamu’alaikum.
saya mempunyai seorang teman yaitu ibu rumah tangga yang anak lelaki pertamanya akhir akhir ini selalu mengamuk,marah-marah,bentak ibu dan bapaknya,sukanya keluar malam.saya sangat prihatin dengan keadaan ini.karena teman saya sering curhat ke saya.pasrah dengan keadaan anaknya yang salah pergaulan.dulu tidak seperti itu.kalau dia marah barang seisi rumah dilempar dipecahin.walaupun sudah dinasehatin tapi tak dianggap.apakah anak seperti itu bisa di ruqyah? caranya bagaimana ustadz karena kalau di bawa untuk ruqyah pasti dia tidak mau atau malah mungkin melawan.besar harapan saya agar dapat dibantu pemecahan masalah ini.terima kasih banyak ustadz.
bahasannya

Kasus cerita Ibu Alifia Nazwa, mirip cerita kasus yang sedang ditangani di rumah ruqyah mojokerto

dalam kasus ini Si ibu sudah lama indigo , sering melihat berbagai penampakan,, beliau ini seorang Guru  , tetapi punya anak laki yang sangat susah diatur remaja SMP  , bahkan sekarang tidak mau sekolah,..pertama minta sepeda motor ..dibelikan second..sekolah sebentar .. terus gak mau lagi minta motor baru.. dan selalu banyak membantah., bagaimana?

berikut ini sedikit tinjauannya

ada banyak faktor yang perlu dicermati , pertama adalah kondisi lingkungan, ekonomi, usia anak (puber) dan yang pokok  proses pendidikan Agama anak oleh orang tua dirumah

proses mentarbiyah anak
Mendidik anak adalah salah satu tanggungjawab yang paling berat yang dipikul oleh seseorang.

Anak adalah karunia dan amanah Allah SWT kepada kedua orang tuanya.
kerana Allah SWT mempertanggungjawabkan mereka supaya supaya untuk mendidik anak mereka menjadi mukmin yang berperanan dalam Islam dan selamat dari api neraka. Firman Allah SWT, di dalam Surah at Tahrim (66), ayat enam,

terjemahannya: “Wahai orang-orang beriman! Peliharalah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Ibnu Umar berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ‘Setiap diri kamu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin. Seorang imam adalah pemimpin, ia akan diminta pertanggungjawabkan terhadap apa yang dipimpinnya (rakyatnya).

Setiap lelaki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawabkan terhadap yang ia pimpin.

Setiap perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawabkan pula dengan apa yang ia pimpin.
Beruntungnya Orang Tua Yang Memiliki Anak Shalih

Sungguh beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan mereka dan menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).

Demikian pula, kelak di hari kiamat, seorang hamba akan terheran-heran, mengapa bisa dia meraih derajat yang tinggi padahal dirinya merasa amalan yang dia lakukan dahulu di dunia tidaklah seberapa, namun hal itu pun akhirnya diketahui bahwa derajat tinggi yang diperolehnya tidak lain dikarenakan do’a ampunan yang dipanjatkan oleh sang anak untuk dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surge. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).

Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

تأمرهم بطاعة الله وتنهاهم عن معصية الله وأن تقوم عليهم بأمر الله وتأمرهم به وتساعدهم عليه فإذا رأيت لله معصية ردعتهم عنها وزجرتهم عنها

“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Berikut ini bentuk penyesalan Ayah ketika Anaknya harus terjerat Narkoba, pergaulan bebas

Sang ayah berkata:

“I don’t blame anyone except myself. I was her biological father, but what did I give her except physical nourishment? I myself was ignorant; if only I had been a bit farsighted then!” (Saya tidak menyalahkan sesiapapun melainkan menyalahkan diri saya sendiri. Saya adalah ayah kandungnya, tetapi apa yang saya berikan kepadanya melainkan makanan fizikal saja. Saya adalah orang yang jahil (tentang tanggungjawab yang sebenarnya sebagai ayah); alangkah baiknya jika saya lebih berpandangan jauh!)

Dewasa ini, luapan seperti di atas sering kita dengar. Ya, masalah sosial dan keruntuhan akhlak sebegini sangat menyedihkan serta menghancurkan hati ayah ibu tetapi jika dilihat ke belakang, sebelum anak berkenaan menjadi remaja. Apakah proses yang dilalui oleh anak itu untuk membentuk dirinya menjadi hamba Allah?

Sedarkah kita bahawa sebelum anak kita menjadi ‘liar’, mayoritas ini karena anak kita adalah anak ‘terbiar’ atau tidak ada kasih sayang ?

Bagi menjelaskan bahwa tanggungjawab keibubapaan adalah tanggungjawab yang besar dan sangat penting, Dr Muhammad menulis:

“Parenting is an enormous job. It demands emotional, psychological and spiritual maturity. It combines the job of parent, teacher, mentor and spiritual guide. Providing the child with decent food, clothing and shelter is the minimum. Parenting is much more than that. It is a life process and, as such a learning one for parents as well.”

(Keibubapaan adalah tugas yang sangat besar. Ia menuntut kematangan emosi, psikologi dan rohani. Ia (keibubapaan) menggabungkan tugas sebagai ibu atau bapa, guru, mentor dan pembimbing rohaniah. Menyediakan anak dengan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang wajar, adalah pelaksanaan tanggungjawab yang minimum. Tanggungjawab (keibubapaan) ini jauh lebih besar daripada itu. Ia adalah proses kehidupan dan proses pembelajaran juga bagi ibu dan bapa.)
Mengenai tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan yang berharga dari imam Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah. Beliau berkata, “perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya” (Ihya Ulum al-Din 3/72).

Senada dengan ucapan al-Ghazali di atas adalah perkataan al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud hal. 125).
Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih!

“Hazm mengatakan, “Saya mendengar al-Hasan al-Bashri ditanya oleh Katsir bin Ziyad mengenai firman Allah ta’ala, “

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤)

“Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74).

Katsir bin Ziyad bertanya kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apakah yang dimaksud qurrata a’yun (penyenang hati) dalam ayat ini terjadi di dunia ataukah di akhirat? Maka al-Hasan pun menjawab, “Tidak, bahkan hal itu terjadi di dunia.” Katsir pun bertanya kembali, “Bagaimana bisa?” al-Hasan menjawab, “Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang taat kepada Allah dan demi Allah tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain dirinya melihat anak, orang tua, kolega dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfah al Maudud hal. 123).

Betapa indahnya, jika kita memandang anak-anak kita menjadi anak yang shalih, karena hal itu salah satu penyejuk pandangan kita. Namun yang patut kita perhatikan adalah faktor yang juga mengambil peran penting dalam pembentukan keshalehan anak adalah keshalihan orang tua itu sendiri.

Jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika diri kita lurus, maka insya Allah anak-anak akan lurus.

Allah ta’ala berfirman,

ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).

Maksud dari ayat di atas adalah orang tua yang baik, sumber yang baik, insya Allah akan menghasilkan keturunan yang baik pula.

Keshalihan orang tua juga akan memberikan manfaat positif, karena Allah akan menjaga sang anak. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 82,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (٨٢)

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82).

Dalam ayat ini diberitakan bahwa dikarenakan keshalihan orang tua, Allah menjaga dan memelihara sang anak, serta tidak mengecewakan orang tua. Oleh karenanya, keshalihan orang tua itu akan berpengaruh pada sang anak, bahkan manfaat itu tidak terbatas pada sang anak semata, tapi juga berdampak kepada cucu-cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsirrahimahullah bahwa yang dimaksud ” وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا ” dalam ayat tersebut adalah kakek ketujuh dari dua anak tadi.

Kelak di surga, Allah ta’ala pun akan mengumpulkan sang anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan sang anak tidak dibanding amalan orang tua.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath Thuur: 21).

Maka disini, Allah ta’ala memasukkan anak-anak orang mukmin ke dalam surga dengan syarat mereka juga beriman. Maka, betapa menyenangkannya, jika kita berkumpul bersama keluarga kita di surga sebagaimana kita berkumpul di dunia ini. Meskipun amal ibadah sang anak tidak sepadan dengan kedua orang tuanya, amalnya kurang daripada orang tuanya, namun Allah tetap memasukkan keturunannya ke dalam surga. Karena apa? Karena keshalehan kedua orang tuanya.

Betapa pentingnya hal ini, yaitu menjadikan pribadi kita, yaitu orang tua, menjadi pribadi yang shalih, sampai-sampai salah seorang yang shalih pernah mengatakan,

يا بني إني لأستكثر من الصلاة لأجلك

“Wahai anakku, sesungguhnya aku memperbanyak shalat karenamu (dengan harapan Allah akan menjagamu).”

Ada seorang tabi’in yang bernama Sa’id ibn al-Musayyib rahimahullah juga pernah berkata,

إني لأصلي فأذكر ولدي فأزيد في صلاتي

“Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah ta’ala).”
dalam sebuah statusnya ustad Aris Fathoni seorang Praktisi Ruqyah Di Rumah Ruqyah Indonesia (ARSY) Jakarta menyatakan dalam sebuah status FB nya 25 Agustus 2015

Was-Was, Ragu, tidak PD, penakut dan semisalnya tidak mesti gangguan JIN

Penyakit di atas adalah keluhan yang banyak dijumpai di RUMAH RUQYAH INDONESIA atau saat saya kunjungan ke rumah.

Orang yang mempunyai keluhan di atas menganggap hal-hal yang kecil jadi besar, curiga pada siapapun, susah tidur, peragu tidak bisa ambil keputusan dengan segera dan lain sebagainya.

bahkan mereka anggap tersihirlah, diguna-guna atau penyakit saya dibuat orang yang tdk suka sama saya dll

jika diberi jalan SOLUSI atau keluar dari masalah yang dihadapinya, selalu bilang Tdk bisa, TITIK.

Pengamatan selama dua tahun belakangan meruqyah, saya menyimpulkan bahwa keluhan di atas lebih banyak disebabkan karena pola asuh orangtua yang kurang PAS atau bijak.

Misalnya:
Keras bicara,
Sering marahi anak jika melakukan kesalahan tanpa dengar alasan terlebih dahulu..
ketika anak protes kesalahan orangtua malah dianggap durhaka
anak tidak punya pilihan kecuali harus nurut kemauan orangtua
kaku saat mendidik anak seperti Militer

akhirnya anak terhambat bicaranya saat mau argumentasi apa yang dilakukanya.

belum apa-apa sudah dibentak ..anak harus nurut orangtua tidak boleh tidak

karena seringnya diperlakukan keras dan bentakan.. akhirnya anak jadi pendiam, ketakutan, dan tidak berbuat apa-apa karena takut disalahin….

‪#‎mari‬ belajar utk lembut pada Buah hati

berkaitan dengan gangguan Jin pada Anak dalam kasus yang bersinggungan dengan gangguan jin misalnya keluarga sering melihat penampakan, anak rewel di jam-jam tertentu, yang positif gangguan jin
dan dari diagnosa dalam keluarga tersebut latar belakang historisnya  sangat erat dengan ritual-ritual klenik , bahkan magis misalnya sering ke dukun, mempunyai jimat, pemagar ,terapi Ruqyah sangat dianjurkan , berikut ini cara-cara dan tips nya

Ibu dan ayah perlulah banyak berdoa kepada Allah dengan bertawajuh pada waktu dinihari sambil berdoa dengan memohon pertolongan dari-Nya supaya membantu mengubah perangai anak anak.
Amalkan membaca empat ayat akhir surah al-Hasyr (ayat 21, 22, 23, 24) sewaktu anak anak sedang tidur dan niatkan bacaan itu agar lembutlah hati mereka supaya taat kepada Allah dan ibu dan ayah.
Setelah selesai dibaca, tiupkan betul betul di ubun ubun kepala anak anak.

Sekiranya tidak berkesan maka boleh amalkan bacaan lima ayat pertama surah Thoha. Selepas itu tiupkan bertentangan dengan hidungnya sewaktu anak sedang menarik nafas ketika tidur.
Lima ayat surah Thoha ini mempunyai sejarahnya yang tersendiri. Dalam beberapa riwayat di mana seorang manusia yang keras hati, buruk tingkah laku dan pernah bersumpah untuk membunuh Rasulullah akhirnya berubah sikap.

Didorong oleh hasrat untuk memunuh Rasulullah, beliau pergi ke rumah adiknya dan akhirnya setelah mendengar suara orang membacakan ayat ayat tersebut, beliau mendobrak masuk kerumah itu lalu dirampas tulisan ayat itu dan dibacanya sendiri.

Tiba tiba hatinya menjadi lembut dan tanpa disangka sangka, akhirnya beliau berlari pergi bertemu Rasulullah lalu melafaskan dua kalimah syahadah d an beriman kepada Allah dan rasulnya.dia adalah Umar Bin Khattab.

Cara kedua

Coba bacakan sebelum tidur bacaan Al Ikhlas Al Falaq Annas, masing masing 3 kali dan usapkan ke seluruh tubuhnya, jika malam hari dia bangun dan menangis tanpa sebab maka gendong dia dan bacakan saja beberapa ayat Al Qur’an yang hapal, bisa Ayat Qursy al falaq annas, tapi saran saya baca Al Baqoroh 1-5, ayat Qursy, dan 3 ayat terakhir surat Al Baqoroh.

ciptakan suasana Islami dalam rumah, langgengkan bacaan suarah Al baqarah dalam rumah

akhir tulisan tulisan nasehat berikut bagus sebagai pengingat diri dan keluarga

“Ingat, Allah memberikan kegelisahan dihati kita agar kita berubah. Dan tidak ada perubahan yang nyaman, namun karena ketidaknyamanan itulah kita dituntut untuk berubah. Ingat, Allah membuatkan jasad kita sakit agar kita tahu bahwa ruhani kita sakit, hingga kita berupaya mengobatinya. Ingat, sakitnya jasad ini tidak akan kita bawa ke akhirat, namun sakitnya ruhani kita akan dibawa keakhirat dan dihisab! Dan, sungguh lebih baik Allah murka kepada kita saat kita masih hidup di Dunia, daripada disebuah masa dimana penyealan sudah tidak berguna lagi”.

Atau tidak usah bertanya, benarkah islam saya, namun tanyakanlah kepada diri kita:

– Sudahkah kita shalat lima waktu tepat waktu?

– Dzikir subhanallah, alhamdulillah, lailahaillallah, allahuakbar 33 selepas shalat?

– Sudahkah kita membaca Hasbunallah wa nikmal wakiil nikmal maula wa nikman nasir 7 sehabis shalat?

– Lailahaillallahu wahdahu la syarikalahu lahulmulku walahul hamdu wa huwa ala kulli sayyiing qaadiir 100 tiap hari?

– Meneggakkan 2 rakaat qiyamullail, minimal 2kali 1minggu?

– 10 surat al baqarah (1-5, 163-164, 255, 285-286) saat permulaan malam atau sebelum tidur?

– Surah al fatihah, al ikhlas, al falak, an nas dan ayat qursi setiap selesai shalat?

– Dhawamul wudhu setiap waktu hingga terlelap?

– Tidak mengeluh, terus berdzikir dan bersyukur?

– Ingat Allah saat marah, sedih dan takut?

– Tidak takut jin lagi dan semua hal selain Allah!!?

– Baca asma Allah, saat makan,keluar rumah, masuk mesjid, buka baju, masuk kamar mandi, berhubungan suami istri dan saat makan?

– Melepaskan diri dari ritual bid’ah, jeratan riba dan memurnikan tauhid dalam hati, lisan dan perbuatan?

– Menuntut diri sebelum menuntut orang lain dan Allah?

– Tidak kecewa dan menuduh Allah?

– Teraphy sedekah, senyum, dan tidak takabur lagi atas keshalehan dan kezuhudan diri?

Jika semua sudah, sudahkah diajarkan kepada anak kita, dan sudahkan dia melakukannya, adakah hasrat dalam diri kita untuk mendidik dia?

Sebuah Lantunan audio MP3  Surah  Ibrahim ayat 35 -42, sungguh indah kita dengarkan, bersama suami / Isteri dan  anak kita tercinta dimana bagaimana indahnya Nabi Ibrahim dalam mendoakan keluarganya

Surah Ibrahim
14-35: Dan (ingatlah) tatkala Ibrahim berdoa: “Rabbi (wahai Tuhanku)! Jadikanlah negeri ini aman sentosa, dan lindungilah daku dan anak-anakku daripada mempertuhankan berhala-berhala.”
14-36: “Rabbi (wahai Tuhanku)! Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) itu telah menyesatkan ramai manusia. Oleh itu, sesiapa mengikuti daku, sesungguhnya dia daripada golonganku, dan sesiapa menderhakai daku, maka sesungguhnya Engkau (ya Allah), adalah al-Ghafur (Maha Pengampun), lagi al-Rahim (Maha Mengasihani).”
14-37: “Rabbana (wahai Tuhan kami)! Sesungguhnya aku telah menempatkan anak cucuku di lembah yang tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan, berhampiran dengan rumah-Mu yang dihormati. Rabbana (wahai Tuhan kami)! (Yang demikian) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka, dan berikanlah kepada mereka rezeki daripada buah-buahan, agar mereka bersyukur.”
14-38: “Rabbana (wahai Tuhan kami)! Sesungguhnya Engkau (ya Allah) mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nyatakan. Dan tidak ada sesuatu pun tersembunyi daripada Allah di bumi atau di langit.”
14-39: “Segala puji hanya untuk Allah, yang telah mengurniakan daku – di hari tuaku – Isma’el dan Ishaq. Sesungguhnya Rab (Tuhan)ku adalah al-Sami’ (Maha Mendengar) akan doa-doa.”
14-40: “Rabbi (wahai Tuhanku)! Jadikanlah daku orang yang (tetap) mendirikan solat, dan (demikian juga) anak cucuku. Rabbana (wahai Tuhan kami)! Perkenankanlah doaku.”
14-41: “Rabbana (wahai Tuhan kami)! Ampunilah daku dan kedua ibu bapaku, dan (juga) orang yang beriman, pada hari berlakunya hisab.”

14-42: Dan janganlah engkau beranggapan bahwa Allah alpa terhadap apa yang dilakukan oleh orang yang zalim itu. Sesungguhnya Dia (Allah) memberikan tempuh kepada mereka sampai kepada hari yang akan terbeliak penglihatan (mereka).

 

semoga tulisan rangkuman dari berbagai sumber  ini bermanfaat
Maka, mari kita menjadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, taat kepada Allah dan shalih, kita jalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan harapan nantinya Allah ta’ala menjaga dan memelihara anak-anak kita.

Check Also

Air Jamur (Kam’ah ) Untuk Pengobatan Penyakit Mata

Salah satu obat  mata yang dianjurkan nabi SAW adalah dengan air jamur . Kaum muslim ...

...