Home / Tehnik Pengobatan / Ruqyah Syariyah / apa itu Nafs dan bagaimana ia bisa dikuasai Setan Golongan Jin dan analogi nya sesuai sistem Komputer (kajian)

apa itu Nafs dan bagaimana ia bisa dikuasai Setan Golongan Jin dan analogi nya sesuai sistem Komputer (kajian)

Manusia terdiri atas 3 unsur Jasad (tubuh) , Ruh dan Nafs (jiwa).

Jasad merupakan unsur fisik yang bisa dilihat dan diraba oleh panca indra. Ruh dan Nafs adalah unsur ghaib yang tidak bisa di raba oleh panca indra.

Berbicara tentang tubuh manusia saja sudah begitu rumit, ada ilmu khusus yang mempelajari anatomi tubuh manusia.
Ilmu kedokteran mempelajari anatomi tubuh manusia untuk mengetahui berbagai penyakit yang sering menyerang fisik manusia dan cara penyembuhannya.

kandungan rohani manusia 2Dalam rohani manusia terkandung beberapa unsur, yaitu: Akal (Pikiran), Nafs (Jiwa), Qolbu (Hati) dan Ruh. Akal sebagai alat penimbang. Nafsu sebagai alat pendorong. Hati sebagai alat pemutus. Dan ruh sebagai alat hidup.
——–

Ruh dan Nafs jauh lebih pelik daripada tubuh manusia, Allah telah mengingatkan bahwa manusia tidak diberikan pengetahuan tentang Ruh melainkan sedikit sekali sebagaimana disebutkan pada surat Al Israak 85 :

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Ruh tetap berada ditubuh manusia sejak ditiupkan kedalam rahim sampai datangnya saat ajal. Ruh memberikan kehidupan pada manusia, tatkala datang saat ajal maka ruh akan keluar dari tubuh manusia baik secara paksa maupun sukarela. Orang yang kafir akan dicabut ruhnya dengan cara paksa dan kondisi yang amat menyakitkan sebagaimana disebutkan dalam surat al Anfal 50:

“(Tentu kamu akan merasa Ketakutan)Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”

Sedangkan orang yang beriman akan dicabut nyawanya dengan lemah lembut seperti disebutkan dalam surat an Naziat atat 2 :
“dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut”

Berbeda dengan Ruh maka Nafs atau jiwa manusia bisa bebas keluar masuk tubuh , ketika masih hidup. Keluarnya Nafs dari tubuh tidak menyebabkan kematian bagi seseorang, hanya saja bisa menyebabkan seseorang jadi hilang kesadarannya.
Allah menceritakan hal ini dalam surat Az zumar bahwa Dialah yang menahan Nafs manusia ketika mati dan tidur, kemudian Ia menahan Nafs orang yang sudah datang ajalnya dan mengembalikan Nafs orang yang belum datang saat ajalnya.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”
(Az Zumar 42)

Keluarnya Ruh dari tubuh bisa menyebabkan kematian, sedang keluarnya Nafs dari tubuh hanya menyebabkan hilangnya kesadaran.

Orang yang lemah jiwanya, jauh dari ibadah dan taat pada Allah, Nafsnya sering dikuasai oleh syetan dan mahluk Jin. Mereka sering melakukan sesuatu diluar kesadarannya, kadang kala mereka kesurupan tubuhnya dikendalikan oleh bangsa Jin dan mereka melakukan berbagai hal yang tidak disadari dan diketahui oleh yang bersangkutan.

Allah memerintahkan kita agar hati hati menjaga Nafs jiwa ini agar tidak disandera dan menjadi budak setan serta hawa nafsu yang hina. Dzikir mengingat Allah, shalat dengan benar dan khusuk, membaca Qur’an dengan mentadabburinya setiap hari, dapat membersihkan dan menguatkan Nafs atau jiwa sehingga tidak mudah disandera oleh Jin dan setan.

Manusia mempunyai beberapa Nafs (jiwa sekunder) diantaranya yang terkenal didalam Al Qur’an adalah Nafsul Amarah, Nafsul Lawwamah, Nafsul Mulhamah, Nafsul Muthmainnah, Nafsul Rodiah, Nafsul Mardiyah dan banyak nafs lainnya lagi.

Allah memerintahkan kita untuk mengawasi dan menjaga Nafs ini agar jangan cendrung pada kemungkaran dan kemaksiatan sebagaimana disebutkan dalam surat An Nziat 40-41

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).

Orang yang sebagian jiwanya disandra dan dibelenggu Jin sering berada dalam keadaan tidak sadar, melamun, merasa berada disuatu tempat, orang menyangka dia mengalami sakit jiwa atau gila. Kadangkala Nafsnya tersingkir dari tubuhnya hingga hilang kesadaranya, selanjutnya tubuhnya dikuasai oleh bangsa Jin yang mempengaruhinya. Dia berkata kata dan bertindak diluar kontrol kesadarannya, kejadian ini dikenal ditengah masyarakat dengan istilah kesurupan.

Banyak orang yang nafsnya dikendalikan bangsa jin yang melakukan perbuatan yang membahayakan dirinya dan orang lain , seperti terjun dari gedung bertingkat, menabrakan diri ke kereta api atau mobil yang sedang berjalan, membunuh anaknya, dan lain sebagainya.

Yang mati Jasad dan Nafs…
Ruh kembali pada Allah…
Setelah kematian, setelah Ruh diangkat ke hadapan Allah…
Ruh dikembalikan lagi ke jasad yg ada dlm kubur ut menunggu hari hisab datang..dgn merasakan siksa kubur buat orang durhaka pada Allah,
Jika Nafs dikuasai Jin maka bukan serta merta manusia itu meninggal…
Cuma setiap gerak gerik jasadnya selalu mengikuti bisikan jin..

Ut mempermudah pemahaman
Saya akan mencontohkan dgn sistem komputer. .boleh tidak..?

KOMPUTER
1.PERANGKAT KERAS HARDWARE
=JASAD

2.PERANGKAT LUNAK SOFWARE
= NAFS
Ut menghidupkan PERANGKAT HARDWARE DAN SOFWARE maka dibutuhkan energi pembangkit..yaitu arus listrik nah arus listrik ini kita analogikan sebagai RUH

KOMPUTER
1.PERANGKAT KERAS HARDWARE
=JASAD

2.PERANGKAT LUNAK SOFWARE
= NAFS

3.Energi Pembangkit
=RUH

Komputer tersebut Memiliki OPERATOR OTOMATIS yg diinstal dalam perangkat lunak SOFTWARE…
Atau bisa kita Analogikan sebagai QOLBU…HATI KECIL…JANTUNG PENGENDALI….
Komputer bisa digunakan ut hal hal yg baik dan bisa juga hal hal yg buruk…
Kinerja komputer bisa juga di operasikan OLEH HACKER yang Membawa VIRUS….

Hacker inilah yg kita Analogikan sebagai SETAN IBLIS dan kroninya yg memusuhi Manusia yg berusaha menguasai SOFTWARE manusia

Ketika SOFTWARE QOLBU Pengendali manusia bisa ditembus dan diambil alih oleh HACKER maka TIDAK SERTA MERTA KOMPUTER MATI tapi pengoperasianya dikendalikan oleh Hacker…
Maka bila 90% Hacker menguasai maka manusia bisa GILA..

Sampai disini faham tidak…???

Ok lanjut..
Hacker bisa menanam virus dalam komputer tubuh kita…
Maka kita butuh ANTI VIRUS….
Anti virus sudah disiapkan Allah….
Yaitu DINUL ISLAM
Makanya semua ajaran islam sperti SHOLAT, SEDEKAH, BACA QURAN, PUASA dll bekerja otomatis MENGHANTAM VIRUS
Makanya kita lihat mereka yg ISLAM KTP yg ndak mau jalan kan ajaran islam TETAP DIKUASAI SETAN karena mrk tak memasang ANTI VIRUS

Orang KAFIR sistem komputerisasinya yg berfungsi ut menginstal anti virus DIHAPUS oleh ALLAH

Orang Munafiq dan Fasiq SOFTWARE Pengendalinya yang bernama QOLBU sudah dikuasai HACKER….

Makanya kalo tidak segera instal anti virus yang baik maka lama kelamaan Jasad Nafs dan Ruh nya akan Rusak yang berujung NERAKA DUNIA dan NERAKA AKHIRAT

Ini hanya analogi saya yang SANGAT FAKIR ILMU..
Dan kemungkinan salahnya sangat besar…
Bila analogi ini benar pasti semata mata dari Allah yang Maha Aliim..

Mari jaga dan tegakan Dienul Islam dalam diri kita agar kita punya anti virus ut membentengi HACKER IBLIS Laknatullah menyerang kita..

 

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(Q.S. An-Nur : 35)

Ketahuilah, sesungguhnya ruh manusia itu hanya tercipta hasil tiupan semata, tiupan siapa? Tentulah hanya tiupan Allah, sebab tiupan manusia tidak bisa menciptakan ruh dan memasukkannya ke dalam seni rupa yang telah kita buat.
Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang menggambar (makhluk yang bernyawa), maka pada hari kiamat dia akan disuruh untuk meniupkan ruh kedalam gambar yang telah dia buat, sedangkan hal itu tak mungkin dia bisa melakukannya!”. (Hadits Shahih; Didalam Kitab Shahih Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri:
“Kami mendapatkan tawanan perempuan, dan kami hendak menyetubuhinya dengan cara ‘Azl, lalu kami menanyakan hal tersebut kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW, lantas Beliau SAW bersabda: ‘Apakah kalian benar-benar melakukannya? Apakah kalian benar-benar melakukannya? Apakah kalian benar-benar melakukannya? Tidaklah tercipta ruh sampai hari kiamat, melainkan dia akan tetap tercipta’!”. (Hadits Shahih; Didalam Kitab Shahih Muslim: 2600).
Jadi sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan ruh itu terus-menerus sampai hari kiamat, sekalipun ruh itu adalah ruh hewan (ruh binatang), sebab ruh bukanlah sesuatu yang qadim (terdahulu, yang ada tanpa permulaan). Setiap kali ada makhluk yang bernyawa akan tercipta di rahim ibunya, maka seketika Allah menciptakan ruh untuk makhluk hidup tersebut. Dan apabila janin telah mencapai usia 40 hari, maka dengan segera malaikat Arham (Malaikat Rahim) masuk ke dalam perut sang bunda untuk meniupkan ruh ke dalam jasad calon bayi tersebut.

Rasulullah Saw bersabda:

“Malaikat masuk (ke dalam perut) untuk meniupkan ruh kepada janin setelah 40 hari.” (Shahih Musnad Ahmad).

Allah Ta’ala berfirman:

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (Q.S As-Sajdah: 9).

Setelah ruh dimasukkan ke dalam jasad jabang bayi, maka ruh itu menyatu dengan jasad, dan jadilah manusia (atau hewan). Barulah dia dapat bergerak-gerak. Setelah ruh dimasukkan ke dalam jasad, maka orang (atau hewan) itu akan hidup dan dapat bergerak bebas dengan badannya sesuai tenaga ruh yang ada di dalam jasad itu.

Apabila orang (atau hewan) itu mati, maka Malaikat Maut menjemputnya dan memaksanya keluar dari dalam jasad. Ketika ruh keluar dari dalam jasad, maka penglihatan akan mengikuti kemana ruh itu pergi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila ruh telah dicabut (dari dalam tubuh), maka penglihatan pun akan mengikutinya dan keluarganya pun meratap histeris. Dan janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan!”. (Hadits Shahih; Didalam Kitab Shahih Muslim: 1528).

Kemanakah ruh manusia pergi? Tentulah ruh manusia pergi dibawa oleh Malaikat Maut ke atas langit yang ketujuh untuk bertemu dengan Tuhan. Tapi perlu dicamkan, langit itu ada tujuh lapis, dan di setiap lapisan langit itu terdapat tujuh pintu (tujuh pintu langit) yang menghubungkan antara bumi dengan langit, dan antara langit yang satu dengan langit yang ada di atasnya. Ketujuh pintu langit itu dijaga ketat oleh ketujuh para malaikat yang bertugas untuk menjaga pintu langit. Ketika Malaikat Maut membawa terbang ruh orang mati ke pintu langit, Malaikat Maut itu mengetuk pintu langit. Apabila selama hidupnya orang tersebut beragama Islam; selalu mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, ketika dia mati, maka pintu langit akan dibukakan untuk perjalanan ruh menuju Tuhan di atas langit yang ketujuh.

Sedangkan apabila selama hidupnya orang tersebut beragama kafir (Non Muslim); selalu berbuat kemungkaran dan kedurhakaan, ketika dia mati, maka pintu langit tidak akan dibukakan untuk perjalanan ruhnya menuju kepada Tuhan di atas langit yang ketujuh. Setelah pintu langit tidak dibukakan baginya, maka Malaikat Maut melempar ruh orang mati itu dari pintu langit yang kesatu ke permukaan bumi, dan kemudian ruh itu masuk lagi ke dalam jasadnya yang sudah mati.

Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah dia (ruh nya) seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”. (Q.S Al-Hajj: 31).

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi (ruh) mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (Q.S Al-A’raf: 40).

Ketika ruh telah kembali ke dalam jasadnya yang sudah menjadi mayat (jenazah), maka ruh itu dapat merasakan dan mendengarkan semua yang ada di sekelilingnya. Apabila mayat itu telah dikuburkan ke dalam tanah, maka ruhnya masih bisa mendengar suara-suara di sekelilingnya, bahkan pendengaran ruh orang mati jauh lebih tajam daripada pendengaran orang hidup.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburannya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, maka dia (ruh orang mati itu) masih mendengar suara sandal mereka”. Imam Bukhari menambahkan: “Sedangkan orang munafiq dan kafir diserukan kepada mereka”.(Hadits Riwayat Bukhari).

Ketika orang-orang yang telah menguburkannya meninggalkannya, maka ruhnya langsung didatangi oleh dua orang malaikat yaitu Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir yang bertugas untuk memeriksa di ‘alam barzakh (‘alam kubur). Lalu Malaikat itu bertanya kepada ruh orang mati itu: “Siapa tuhan-mu?; Siapa nabi-mu?; Apa agama-mu?” Apabila orang itu selama hidupnya beragama Islam serta beramal sholeh, maka dia akan mudah menjawab pertanyaan para malaikat itu: “Tuhanku adalah Allah; Nabiku adalah Muhammad; Agamaku adalah Islam”. Dengan demikian dia akan mendapatkan kenikmatan di dalam kuburannya, dia akan mencium bau syurga yang begitu sangat lezat. Namun sebaliknya, apabila orang itu selama hidupnya beragama kafirun (orang non Muslim) serta beramal yang fasiq dan selalu berbuat kemungkaran, maka dia akan mengalami kesulitan untuk menjawab pertanyaan para malaikat itu. Dengan demikian api neraka akan ditampakkan kepadanya (kepada ruhnya) di dalam kuburannya, dia akan merasakan betapa menyengatnya api neraka itu.

Rasulullah SAW bersabda: “… Lalu ruh orang mati yang jahat itu dikembalikan lagi ke dalam jasadnya (yang sudah dikuburkan ke dalam tanah) dan dua malaikat mendatanginya seraya bertanya: ‘(Man Rabbuka) Siapakah Tuhan-mu?’ Ruh orang mati itu menjawab: ‘Hah… hah… aku tidak tahu!’. Malaikat itu bertanya lagi: ‘Siapakah manusia yang diutus kepada kalian? (Siapa nabi-mu?)’ Ruh orang mati itu menjawab: ‘Hah… hah… aku tidak kenal’. Lalu diserukan suara dari langit bahwa dia telah mendustakan hamba-Ku. Maka dekatlah dia dengan neraka dan dibukakan pintu neraka hingga panas dan racunnya sampai kepadanya. Lalu kuburannya disempitkan hingga tulang-tulang iganya saling bersilangan. Dan didatangkan kepadanya seorang yang wajahnya buruk, pakaiannya buruk dan baunya busuk dan berkata kepadanya: ‘Berbahagialah dengan amal jahatmu. Ini adalah hari yang kamu pernah diingatkan!’. Ruh orang mati itu bertanya: ‘Siapakah kamu?, Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kejahatan?’ Dia menjawab kepada kepada ruh orang mati itu: ‘Aku adalah amal buruk mu!’. Kemudian ruh orang mati itu berkata lagi: ‘Ya Tuhan, jangan kiamat dulu…!’”. (Hadits Shahih).

Lantas apakah ruh orang mati bisa bertemu dengan teman-temannya di ‘alam barzakh (di ‘alam kubur)? Walallahu ‘alam bi showwab, namun ketahuilah sesungguhnya ruh seseorang tidak akan bertemu dengan ruh oranglain (alias ruh itu sendiri-sendiri dan tidak akan berhubungan dengan ruh oranglain).

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya ruh itu tidak bertemu dengan ruh (oranglain)!”. (Shahih Musnad Ahmad).

Dan apabila seseorang itu telah lama mati dan dikuburkan, lama-kelamaa ruh orang mati itu akan berubah menjadi burung yang menggantung di pohon. Hingga apabila hari kebangkitan telah tiba, maka ruh itu akan balik lagi ke dalam jasad nya.

Durrah binti Mu’adz menceritakan dari Ummu Hani, bahwa ia bertanya kepada

Rasulullah Saw: “Apakah ketika manusia sudah meninggal dunia kita bisa saling mengunjungi dan melihat satu sama lain?” Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Suatu saat nanti ruh akan menjadi burung yang menggantung di pohon. Sehingga apabila hari kiamat tiba, maka setiap nafs akan dimasukkan lagi ke dalam jasadnya.” (Hadits Shahih; Musnad Ahmad).

Dalil-dalil tentang Nafs (Jiwa)

Ketahuilah, sesungguhnya Nafs adalah Jiwa manusia / Nafsi / Diri pribadi. Ketahuilah bahwasanya Nafs manusia akan tercipta hanya setelah ruh manusia menempel di dalam jasadnya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu nafs saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S Luqman: 28).

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini adalah Tuhanmu?’ Nafs mereka menjawab: ‘Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” ﴾Q.S. Al-A’raf: 172).

Sesungguhnya didalam jasad manusia ada dua kepribadian, yaitu ruh (roh manusia) dan nafs (jiwa manusia). Ruh manusia akan selalu tetap tinggal di dalam jasadnya hingga maut menjemputnya. Namun nafs manusia tidak seterusnya berada di dalam jasadnya, sebab sewaktu manusia tidur, maka nafs akan pergi meninggalkan jasadnya.

Dari Abu HuraIrah: Rasulullah saw bersabda:

“Jika salah seorang di antara kamu akan tidur, maka hendaklah ia meniupkan ke dalam pakaiannya di sebelah dalam (yang ada di sebelah kanannya), karena ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian, kemudian hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Tuhanku, dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku ini, dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan nafsku maka sayangilah dia, dan jika Engkau melepaskannya kembali, maka peliharalah dia seperti Engkau memelihara orang-orang yang sholeh!’”. (Hadits Riwayat Bukhari & Muslim).

Allah Ta’ala berfirman:

“Allah memegang nafs (orang) ketika matinya dan (memegang) nafs (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Q.S Az-Zumar: 42).

Mengapakah manusia bisa tertidur? Jawabannya adalah, karena nafs manusia sedang dipegang (ditahan) oleh Allah Ta’ala, sehingga nafs itu keluar dari dalam jasadnya dikala tidur. Dan apabila Allah melepaskan nafs, maka nafs itu akan kembali ke dalam jasadnya, maka orang itu akan terbangun dari tidurnya.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya nafs mu dikeluarkan (dari dalam tubuhmu) dan kemudian dikembalikan kepadamu, sampai suatu waktu yang diinginkan oleh Allah”.

Sungguh manusia tidak akan tahu, kapan waktunya dia akan tertidur dan kapan waktunya dia akan terbangun, sebab nafs manusia sedang dipegang oleh Allah dikala tidurnya. Dan terserah Allah kapankah dia akan dibangunkan dari tidurnya (yakni nafs nya akan dimasukkan lagi ke dalam jasadnya). Lantas kemanakah perginya nafs ketika sedang tertidur? Manusia ketika tidur, maka nafsnya akan keluar dari dalam jasadnya, kemudian dia pergi meninggalkan jasadnya, dan nafsnya terbang ke atas langit yang ketujuh untuk bersujud kepada Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya (Singgasana-Nya).

‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash Ra berkata:

“Pada saat tidur, sesungguhnya nafs itu dibawa naik ke atas langit, lalu nafs itu diperintahkan sujud disamping ‘Arsy Allah (Singgasana Allah). Jikalau nafs itu dalam keadaan suci, maka dia sujud di dekat ‘Arsy Allah dan jika tidak suci, maka dia sujud jauh dari ‘Arsy Allah!”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Nafs manusia yang sedang tidur, maka nafsnya keluar dari dalam jasadnya dan meninggalkan jasadnya, kemudian dia terbang ke atas langit untuk menuju ‘arsy Allah (Singgasana Tuhan) yang lokasinya terletak di atas langit yang ketujuh. Nafs-nafs manusia itu bersujud di samping ‘arsy Allah (Singgasana Tuhan) sampai waktunya dia akan dikembalikan lagi ke dalam jasadnya.

Barangsiapa yang tidurnya dalam keadaan suci, maka nafsnya akan bersujud di dekat ‘arsy Allah.

Sedangkan barangsiapa yang tidurnya tidak dalam keadaan suci, maka nafsnya akan bersujud namun tempat sujudnya nafs itu tidak berdekatan dengan lokasi ‘arsy Allah. Dan ketika nafs pulang lagi dan masuk lagi ke dalam jasadnya, maka dia akan terbangun dari tidurnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Salim bin Amir bahwa ‘Umar bin Khatab berkata: “Aku heran sekali tentang mimpi seorang laki-laki. Dia tidur lalu melihat dalam mimpinya sesuatu yang belum pernah terbayang dalam hatinya, dan mimpinya itu menjadi kenyataan seperti benda yang dipegang dengan tangannya dan kadang-kadang laki-laki itu mimpi lagi akan tetapi tidak terbukti apa-apa”. Maka Ali bin Abu Thalib berkata: “Bolehkah saya memberitahukan kepadamu tentang hal itu, wahai Amirul Mukminin? Allah Swt berfirman: ‘Allah memegang nafs (orang) ketika matinya dan (memegang) nafs (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (Q.S Az-Zumar: 42).’”. Kemudian Ali bin Abu Thalib berkata lagi:

“Sesungguhnya Allah Swt mencabut semua nafs (ketika tidur). Jika yang berada di sisi Allah melihat sesuatu di langit, itu termasuk mimpi yang baik, mimpi yang sholeh, dan apa yang dilihat oleh nafs itu ketika ia kembali kepada tubuhnya, maka dalam perjalanan itu ia dikerumuni oleh syaitan-syaitan (para jin kafir) di udara yang memberikan kabar dusta, dan syaitan-syaitan itu menyampaikan kedustaan-kedustaan sehingga menimbulkan mimpi yang tidak baik”.

Maka ‘Umar bin Khattab merasa kagum atas keterangan Ali bin Abi Thalib itu!

Ruh dan Nafs Didalam Jasad Manusia.

Mengapakah adanya mimpi? Itu disebabkan karena nafs manusia yang sedang tidur itu ketika dia bersujud di atas ‘arsy, dia melihat sesuatu disana. Jadi apabila nafs itu melihat sesuatu yang ada di atas langit, maka itu pertanda bahwa dia sedang mengalami mimpi baik.

Namun ketika nafs itu pulang kembali ke dalam jasadnya, tiba-tiba saja di udara (di atmosfer) nafs itu bertemu dan dicegat oleh para syaitan-syaitan (para jin kafir), maka itu pertanda bahwa dia sedang mengalami mimpi buruk. Dan nafs itu akan menceritakan seputar perjalanannya itu kepada ‘aql (Memori otak) dan kepada Qalb (Kalbu), sehingga manusia ketika terbangun dari tidurnya, dia dapat mengingat mimpinya tersebut dan dapat merangkainya dengan kata-kata untuk diceritakan kepada oranglain.

Dari pembahasan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ketujuh pintu langit tidak dibukakan kepada ruh manusia yang akan menghadap tuhannya, namun ketujuh pintu langit selalu terbuka lebar bagi nafs manusia yang akan menghadap tuhannya untuk bersujud di ‘arsy ketika manusia itu tengah tertidur. Jika nafs pergi ke langit ketika tidur, maka berarti ketujuh pintu langit akan selalu terbuka lebar untuk perjalanan nafs.

Namun pintu langit tidak akan terbuka bagi ruh (yakni ruh orang kafir), sesuai dengan apa yang telah ana jelaskan di atas tentang perjalanan ruh orang mati. Jadi pintu langit hanya terbuka untuk nafs, tetapi tertutup untuk ruh (ruh orang kafir). Sesungguhnya setelah manusia meninggal dunia, maka nafsnya akan dipegang kembali oleh Allah sebagaimana ketika orang itu sedang tertidur.

Allah Ta’ala berfirman:
“Allah memegang nafs (orang) ketika matinya dan (memegang) nafs (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Az-Zumar: 42).

Jadi tidur maupun mati, sama-sama nafsnya tidak ada di dalam jasadnya, sebab nafs orang tidur dengan nafs orang mati sedang dipegang oleh Allah Ta’ala. Maka Allah menegaskan bahwasanya semua yang memiliki nafs di dalam tubuhnya, pasti mereka akan merasakan kematian.

Allah Ta’ala berfirman:
“Tiap-tiap yang yang memiliki nafs di dalam tubuhnya akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Q.S. Ali ‘Imran: 185).

Lantas bagaimanakah kabarnya ruh orang mati dan nafs orang mati? Sesungguhnya suatu saat nanti, ruh orang mati akan berubah menjadi burung yang menggantung di pohon. Sedangkan nafs orang mati tetap akan dipegang oleh Allah Ta’ala. Dan apabila hari kebangkitan (Yaumul Qiyamah) telah tiba waktunya, maka ruh orang mati beserta nafs orang mati akan dimasukkan kembali ke dalam tubuhnya, sehingga tubuh manusia akan kembali hidup lagi sebagaimana mestinya. Dan seluruh manusia akan hidup kembali untuk menjalani kehidupannya di akhirat kelak.

Durrah binti Mu’adz menceritakan dari Ummu Hani, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Saw:

“Apakah ketika manusia sudah meninggal dunia kita bisa saling mengunjungi dan melihat satu sama lain?” Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Suatu saat nanti ruh akan menjadi burung yang menggantung di pohon. Sehingga apabila hari kiamat tiba, maka setiap nafs akan dimasukkan lagi ke dalam jasadnya.” (Hadits Shahih; Musnad Ahmad).

KESIMPULAN!:
1] Ruh tercipta dari hasil tiupan Allah. Sedangkan nafs hanya akan tercipta setelah ruh dan jasad menyatu.

2] Selagi manusia hidup, ruh manusia itu tidak akan pernah keluar dari dalam jasadnya. Sedangkan nafs manusia hanya akan tinggal di dalam jasad manusia hanya ketika manusia itu sedang bangun (melek), namun ketika manusia tidur, maka nafs manusia akan keluar dari dalam jasadnya, kemudian nafs itu akan terbang ke atas langit dan bersujud di ‘arsy Allah (Singgasana Tuhan).

3] Penglihatan orang mati yang baru saja sakaratul maut akan selalu mengikuti kemana ruhnya itu pergi. Sedangkan pernglihatan orang mati yang baru saja sakaratul maut tidak akan mengikuti kemana nafsnya itu pergi.

4] Ketujuh pintu langit tidak akan dibukakan untuk perjalanan ruh manusia (ruh orang mati). Sedangkan ketujuh pintu langit akan selalu terbuka lebar untuk perjalanan nafs manusia (nafs orang tidur), sebab ruh orang mati dan nafs orang tidur sama-sama terbang ke atas langit. Hanya saja pintu langit hanya terbuka untuk nafs manusia, tetapi tertutup untuk ruh manusia (ruh orang kafir).

5] Setelah meninggal dunia, ruh manusia akan dicabut oleh Malaikat Maut dari dalam jasadnya, kemudian ruh manusia akan disimpan di ‘alam Barzakh (‘alam kubur). Sedangkan nafs manusia, setelah meninggal dunia, nafs manusia langsung akan dipegang oleh Allah Ta’ala, sehinggan nafs manusia tidak bisa kembali lagi ke dalam jasadnya.

6] Lama-kelamaan ruh orang mati akan berubah menjadi burung yang menggantung di pohon. Sedangkan nafs orang mati tidak akan pernah berubah menjadi burung yang menggantung di pohon, nafs orang mati akan tetap dipegang oleh Allah Ta’ala sampai hari kebangkitan (Yaumul Qiyamah). Dan apabila hari kebangkitan (Yaumul Qiyamah) telah tiba waktunya, maka setiap ruh dan setiap nafs akan dimasukkan lagi ke dalam jasadnya, sehingga manusia bisa hidup lagi sebagaimana mestinya untuk menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Wallahu ‘alam bi showwab!

video ulasan tentang beda RUH JASAD NAFS

“Kalau jasad saya kira kita sudah paham semua. yang sering diperdebatkan adalah antara Ruh dan Nafs. Baik secara singkat bahwa nafs adalah yang menyaksikan keadaan keadaan yang terjadi pada jasad. Misalnya ketika mata melihat di depannya ada gelas maka nafs pun menyadari bahwa ada gelas di depan matanya. ketika hati sedih, maka nafs pun menyadari bahwa “sakitnya tuh disini” ketika berpikir maka nafs menyadari bahwa jasad bagian otak sedang melakukan aktivitas berpikir.

nah sekarang siapa yang mengaktivasi jasad sehingga jasad ini bisa hidup, telinga bisa menjadi pendengaran, mata bisa menjadi penglihatan dan hati bisa merasakan. semua adalah karena ada nya Ruh yang ditiupkan pada jasad manusia. Maka dengan adanya Ruh ini jasad menjadi hidup dan nafs bisa menyadari apa apa yang ada dalam jasadnya.”

Screenshot_1070
semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita dalam dunia Ruqyah syar’i
Sumber
ustad : Jatie ElGontory Sucipto dalam sebuah status FB
http://markazruqyah.blogspot.co.id/search?q=ruh
serta tambahan admin

Check Also

Cara Mudah Mengetahui Apakah Anda Terkena Pandangan Jahat (‘Ain)

Pada setiap penyakit non medis atau mungkin medis memiliki ciri khusus atau yang menonjol darinya  ...

...