Home / Tehnik Pengobatan / Ruqyah Syariyah / TINGKAT LEVEL KERASUKAN JIN VS PUKULAN

TINGKAT LEVEL KERASUKAN JIN VS PUKULAN

Tingkatan kerasukan jin VS Pukulan.
Oleh Ustad Perdana Akhmad (Founder QHI)

1. Tingkat ringan.

Cirinya adalah bergetar/keram tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya, menangis, menjerit namun manusianya masih memiliki kesadaran masih bisa diajak ngobrol dan dialog sebab jin belum menguasai sepenuhnya kesadaran manusia.

2. Tingkatan sedang.

Cirinya bergetar/keram tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya, menangis, menjerit lalu jin mulai menguasai lisan manusia dengan menggeram, mendesis, berbicara melalui lisan manusia yang sudah dikuasainya. NAMUN ketika peruqyah atau seseorang memanggil nama orang yang lagi dikuasai jin tetap bisa menjawab walau dengan susah payah.

3. Tingkatan tinggi

Dimana jin 100% menguasai sepenuhnya jasad manusia baik tubuh fisik dan kesadaran jiwanya hingga ketika coba disadarkan oleh seseorang atau peruqyah benar benar sudah tidak bisa lagi sebab total kesadaran manusia itu hilang.

Kondisi tingkat pertama dan tingkat kedua JANGAN coba coba untuk memencet atau memakai tehnik Ibnu Taimiyyah memukuli jin melalui tubuh manusia sebab akan membekas, terasa sakit dan nyeri karena manusia masih memiliki kesadaran pada fikirannya walau tubuhnya dikuasai jin. Jikapun terpaksa memukul lakukan pukulan dengan menepuk dengan tepukan tidak menyakitkan namun terus dilambari dengan doa.

Adapun tingkat ketiga jika melakukan tehnik pukulan ala Ibnu Taimiyah maka 100% pasien tidak akan merasakan rasa sakit apapun dan pukulan kita 100% akan diterima jin zolim.

Namun walau memukul harus tetap melihat maslahat dan mudharatnya.

UTAMAKAN dakwahi dengan lembut dulu jin tersebut, jika tetap membandel tetap bujuk dan doakan agar jin tersebut dapat hidayah jika tidak ada opsi lain bahkan jin tersebut menghina Allah dan Rasulnya maka baru lakukan pukulan.

Memukul pasien atau orang yang kerasukan jin berlebihan ketika diadakan ruqyah massal apalagi jika diliput media massa akan menimbulkan fitnah bahwa ruqyah mengajarkan kekerasan bahkan pasien lain yang awam akan ketakutan menyaksikan adegan kekerasan tersebut.

Jagalah etika ketika memukul, jangan menempeleng, menjambak rambut, memukul paha wanita dengan tangan,memukul daerah kemaluan atau menendang.

Cara aman memukul

Pengalaman saya memukul yang aman adalah menggunakan sorban, sajadah, menggunakan sapu lidi, menggunakan telapak tangan dan hindari memukul menggunakan kayu atau rotan sebab keahlian memukul kita jauh dibawah Syaikul Islam Ibnu Taimiyah.

Larangan memukul

Apapun alasannya tidak boleh memukul mata, hidung, jakun, bibir, tulang kering dan kemaluan.

Batas pukulan.

Pukulah diri anda sendiri sebelum memukul jin dalam tubuh seseorang, rasakan kekuatan pukulan dan rasa sakit yang kita sanggup terima maka baru boleh dicoba pukul pada jin yang merasuki manusia.

Dibawah ini kisah Ibnu Taimiyah memukul jin melalui perantara tubuh manusia.

kisah terapi pukulan Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang yang kesurupan jin. Berikut kisahnya (Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata) :
وشاهدتُ شيخنَا يُرسِلُ إلى المصروع مَن يخاطبُ الروحَ التى فيه، ويقول: قال لكِ الشيخُ: اخرُجى، فإنَّ هذا لا يَحِلُّ لكِ، فيُفِيقُ المصروعُ، وربما خاطبها بنفسه، وربما كانت الروحُ مارِدةً فيُخرجُها بالضرب، فيُفيق المصروعُ ولا يُحِس بألم، وقد شاهدنا نحن وغيرُنا منه ذلك مراراً.
وكان كثيراً ما يَقرأ فى أُذن المصروع: {أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ }[المؤمنون : 115].
وحدَّثنى أنه قرأها مرة فى أُذن المصروع، فقالت الروح: نعمْ، ومد بها صوته. قال: فأخذتُ له عصا، وضربتُه بها فى عروق عنقه حتى كَلَّتْ يدَاىَ من الضرب، ولم يَشُكَّ الحاضرون أنه يموتُ لذلك الضرب. ففى أثناء الضرب قالت: أَنا أُحِبُّه، فقلتُ لها: هو لا يحبك. قالتْ: أنَا أُريد أنْ أحُجَّ به. فقلتُ لها: هو لا يُرِيدُ أَنْ يَحُجَّ مَعَكِ، فقالتْ: أنا أدَعُه كَرامةً لكَ، قال: قلتُ: لا ولكنْ طاعةً للهِ ولرسولِه، قالتْ: فأنا أخرُجُ منه، قال: فقَعَد المصروعُ يَلتفتُ يميناً وشمالاً، وقال: ما جاء بى إلى حضرة الشيخ ؟ قالوا له: وهذا الضربُ كُلُّه ؟ فقال: وعلى أى شىء يَضرِبُنى الشيخ ولم أُذْنِبْ، ولم يَشعُرْ بأنه وقع به الضربُ ألبتة.
Dan aku pernah menyaksikan syaikh kami (yaitu Ibnu Taimiyyah) mengutus seseorang kepada orang yang kesurupan untuk berbicara kepada ruuh (jin) yang merasuki badannya. Orang itu berkata : “Syaikh berkata kepadamu : ‘Keluarlah, karena perbuatan ini tidak halal bagimu’. Llau orang yang kesurupan itu pun tersadar. Dan kadangkala, beliau (Syaikhul-Islaam rahimahullah) berbicara sendiri (kepada jin), dan kadangkala ruh (jin) enggan sehingga perlu dipukul untuk mengeluarkannya. Orang yang kesurupan tadi lalu tersadar, namun ia tidak merasakan sama sekali (pukulan yang diterimanya). Kami dan orang-orang selain kami telah menyaksikan dari beliau tentang peristiwa tersebut beberapa kali.
Dan yang sering beliau baca di telinga orang yang sedang kesurupan adalah firman Allah ta’ala : ‘Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?’ (QS. Al-Mukminuun : 115).
Dan beliau pernah menceritakan kepadaku bahwasannya satu ketika beliau membacakannya di telinga orang yang kesurupan, lalu ruh (jin) yang merasuk dalam tubuhnya berkata : ‘Ya’. Dan ia (jin) memanjangkan suaranya. Syaikhul-Islam berkata : “Lalu aku ambil tongkat dan aku pukulkan di tengkuknya hingga tanganku lelah memukulnya. Orang-orang yang hadir memastikan bahwa orang tersebut meninggal akibat pukulan yang diterimanya. Dan di tengah-tengah pukulan, jin (perempuan) berkata : ‘Aku mencintainya’. Lalu aku (Syaikhul-Islam) katakan kepadanya : ‘Ia tidak mencintaimu’. Jin berkata : ‘Aku ingin pergi haji bersamanya’. Aku katakan kepadanya : ‘Ia tidak ingin pergi haji bersamamu’. Jin berkata : ‘Aku meninggalkannya karena menghormatimu’. Aku berkata : ‘Tidak, akan tetapi (engkau pergi karena) ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya’. Jin berkata : ‘Aku keluar darinya”. Beliau (Syaikhul-Islaam) berkata : “Lalu orang yang kesurupan itu duduk dengan menengok kanan dan kirinya. Ia berkata : ‘Apa yang menyebabkan aku hadir di hadapan syaikh ?’. Orang-orang yang hadir berkata kepadanya : ‘Bagaimana dengan semua pukulan yang menimpamu ?’. Orang itu berkata : ‘Atas dasar apa syaikh memukulku, padahal aku tidak melakukan satu dosa/kesalahan pun’. Ia tidak merasakan sedikitpun pukulan yang tadi menimpanya” [Zaadul-Ma’aad, 4/60].

Wallahu a’lam.

Check Also

Cara Mudah Mengetahui Apakah Anda Terkena Pandangan Jahat (‘Ain)

Pada setiap penyakit non medis atau mungkin medis memiliki ciri khusus atau yang menonjol darinya  ...

...