Home / Artikel Kesehatan / Mengenal Compulsive Hoarding, “Si Penimbun Sampah”

Mengenal Compulsive Hoarding, “Si Penimbun Sampah”

Apakah Ada anggota keluarga Anda yang suka menimbun Koran bekas hingga bertahun-tahun? Atau sering membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan saat mereka sedang cemas,lalu menyimpannya begitu saja. Atau Anda sendiri merasa kesulitan memutuskan membuang barang-barang bekas tak terpakai,sehingga menumpuk dimana-dimana? Mungkin ini adalah salah satu gejala Compulsive Hoarding atau perilaku “Penyampah”.

Apa sih Compulsive Hoarding/Penyampah itu? Ini adalah gangguan kejiwaan berupa perilaku mengumpulkan dan menimbun barang-barang yang umumnya bagi orang lain tidak berguna,remeh,dan tak berharga. Perilaku ini sampai menyebabkan kekacauan ruang untuk hidup pelaku maupun orang di sekitarnya.bahkan tak jarang menimbulkan bahaya bagi si pelaku dan orang-orang disekitarnya.

Seorang hoarder berbeda dengan seorang kolektor,seorang kolektor biasanya bangga menunjukkan barang koleksinya,sedang seorang hoarder biasanya justru menyembunyikannya dari publik “harta” yang ditimbunnya dalam kekacauan.

Di Amerika sekitar lebih dari 1 juta orang mengalami penyakit kejiwaan ini. Compulsive Hoarding sering dianggap sebagai bentuk dari ObsesifCompulsive Disorder (OCD) karena antara 18 dan 42 persen orang dengan pengalaman OCD memiliki kecenderungan untuk menimbun. Namun, Compulsive Hoarding dapat mempengaruhi orang-orang yang tidak memiliki riwayat OCD juga.

Dorongan untuk menimbun sering dimulai selama masa kanak-kanak atau masa remaja, tetapi biasanya tidak menjadi parah hingga dewasa. Perilaku ini sebenarnya merupakan manifestasi dari rasa takut,dan kecemasan berlebihan untuk membuang sesuatu.

Beberapa tanda-tanda Compulsive Hoarding atau perilaku “penyampah” yang dapat dikenali antara lain :

  1. Hoarder biasanya kesulitan untuk memutuskan membuang barang-barang yang mestinya dibuang. Bahkan beberapa dari mereka kesulitan membuang struk pembelian dari mini market yang mereka datangi.
  2. Memiliki kekacauan dalam penyimpanan barang-barang, baik itu dikantor, dirumah,di mobil,di kamar, dan di ruangan lain.
  3. Hoarder memiliki keterikatan emosional terhadap bang-barang yang ditimbunnya, bahkan pada tumpukkan brosur-brosur yng dikumpulkannya. Menyingkirkan atau membuang barang-barang tersebut memicu kecemasan yang berlebihan pada pelaku.
  4. Kadang mereka juga memiliki masalah financial yang serius karena tidak bisa berhenti membeli barang-barang baru yang tidak diperlukan,bahkan sama sekali tidak digunakan.
  5. Menolak untuk mendapat kunjungan dari keluarga atau tetangga karena malu jika orang lain mengetahui kekacauan dalam rumahnya. Mereka lebih cenderung menarik diri dari pergaulan. Bahkan memutuskan hidup sendiri bertahan dengan perilaku hoarding-nya.
  6. Kebanyakan Hoarder seorang yang perfeksionis. Mereka takut membuat keputusan yang salah tentang tenteng apa yang harus sisimpan dan apa yang harus dibuang, sehingga mereka justru menyimpan semuanya.
  7. Orang dengan perilaku Compulsive Hoarding jarang mengenali masalah mereka hanya sampai setelah penimbunan menjadi masalah dengan anggota keluarga yang tinggal bersama mereka misalnya orang tak dapat menggunakan kamar mandi karena barang yang mereka tumpuk sampai menjejali ruangan itu juga.
  8. Compulsive Hoarding tidak hanya menimbun barang-barang, perilaku ini dapat berupa mengumpulkan binatang sampai tak terurus, seperti kucing,dan lain-lain.

BERBAHAYA!

Perilaku ini dapat membahayakan pelaku bahkan orang-orang di sekitarnya. Koran atau kertas-kertas tak terpakai menumpuk hingga menggunung di rumah mereka sehingga dapat menimbulkan kebakaran. Bahkan akibat dari barang-barang yang ditimbun hingga menggunung dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi pelaku dan orang lain yang tinggal bersamanya. Bahkan ada yang menimbulkan kematian.

Perilaku ini dapat juga dipicu karena trauma yang mendalam,misalnya kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain.

TOLONGLAH MEREKA!

Mereka membutuhkan pertolongan untuk mengobati perilaku menyimpang ini. Berikan perhatian dan empati pada pelaku hoarding, pahami dan hormati bahwa mereka juga mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri.

Dorong dan berikan motifasi kepada mereka untuk berkonsultasi dan mendapat penanganan yang tepat dari dokter ahli.

Memaksa mereka untuk menyingkirkan dan membuang barang-barang mereka hanya akan membuat mereka menolak mendapat bantuan di masa depan. Dan yang utama cari dan berikan solusi pada kecemasan yang jadi pemicunya.

Check Also

Mendiagnosa Penyakit Pasien Melalui Wajah

Berikut ini sebuah tulisan Dari Mookil Nam, Seorang Ahli Pengobatan Tradisonal Korea ,dalam bukunya berjudul ...

...