Home / Berita / Pantaskah kita mengeluh, Renungkanlah !!!

Pantaskah kita mengeluh, Renungkanlah !!!

Apabila direnungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah diterima dan digunakan dalam hidup ini. Bersyukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat. Allah berfirman, ”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 16: 18).

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Ayat itu diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahmaan. Kerap membuat siapapun tertegun membacanya. Betapa kita, sebagai makhluk-Nya, terkadang terlalu sombong untuk sekadar mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Menikmati ketentuan Allah atas untuk dioptimalkan sesuai kemampuan yang dimiliki. Dengan begitu, akan menjadi pribadi yang sempurna.

Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya kufur. Jangan terlena hingga lupa dan mengklaim itu adalah hasil jerih payah sendiri, tanpa menganggap Allah sebagai Maha Pemberi. Karena, sikap seperti itu dapat menjerumuskan kepada kekufuran terhadap nikmat Allah.

Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kau Dustakan?

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan

Sudah banyak sekali nikmat yang sudah Dia berikan. Akan tetapi banyak manusia tidak mensyukurinya. Bukankah Allah SWT telah berfirman: ”Dan, Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS Ibrahim [14]: 34). Sudah banyak sekali nikmat yang Dia berikan. Nikmat mencicipi manisnya iman, nikmat menghirup udara segar, dan sebagainya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Allah telah memberi iming-iming yang menggiurkan untuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur, dan ancaman untuk hamba-hamba-Nya yang kufur, seperti yang termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 7: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Bila berhubungan dengan pemberian yang sesuai impian, lalu bagaimana dengan pemberian yang tidak sesuai dengan keinginan? Terkadang, sebagai manusia, mengeluhkan atau tidak mensyukuri pemberian Allah SWT yang tidak sesuai rencana. Padahal, tidak tahu kalau itu sebenarnya baik untuk. Dan biasanya akan hanya terus menyalahkan keputusan-Nya. Mengeluh dan protes. Jarang kita melihat sisi positif dari pemberian itu. Padahal, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-kesalahannya” (HR Bukhori no 5641, Muslim no . 2573).

Pada saat ditimpa suatu musibah, maka janganlah cepat-cepat mengeluh. Lihatlah sisi positifnya. Berpikirlah bahwa Allah sayang kepada makhlukNya, karena Allah ingin segera menghapus dosa kita lewat ujian tersebut. Begitu juga ketika keputusan Allah tidak sesuai harapan. Mungkin itu adalah untuk kebaikan jangka panjang. Ingatlah, Allah akan memberikan apa yang diperlukan, bukan yang diinginkan, karena bisa jadi apa yang diharapkan justru mendatangkan mudharat.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Fakta menunjukkan, tak ada yang abadi di dunia ini. Segala kenikmatan bisa lenyap seketika. Kekayaan, kedudukan, kecantikan, ketampanan, ketenaran, kecerdasan, dan sebagainya bisa diambil kembali oleh Sang Maha Pemberi, Allah SWT. Pinjaman Allah itu akan diminta kembali bila Sang Pemilik ingin mengambilnya.

Banyak orang yang terpedaya dengan kehidupan dunia. Seolah-olah dunia merupakan segalanya. Saking terpananya dengan bayangan dunia, sampai-sampai banyak orang melupakan tempat untuk masa depannya yang abadi, yakni akhirat. Mereka melupakan dan menyia-nyiakan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Padahal, Allah kelak akan mempertanyakan semua kenikmatan yang telah diberikan kepada hamba-Nya. “Kemudian, kamu pada hari itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh kenikmatan (yang telah diberikan kepadamu).” (QS at-Takatsur [102]: 8)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Mungkin, semasa di dunia manusia bisa berdalih. Ketika di akhirat kelak, mulut manusia dikunci, tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Nantinya akan ditanyakan untuk apa nikmat-nikmat yang Allah SWT berikan, seperti umur, waktu, harta, jabatan, kecantikan, kecerdasan, ilmu, dan lain-lain digunakan? Untuk taat kepada-Nya atau justru untuk melanggar ketentuan-Nya? Semua itu akan dipertanyakan oleh Sang Maha Pemberi.

Mustahil orang yang paham terhadap hakikat kenikmatan dunia akan mengejar jabatan yang haram untuk diduduki, menggunakan kecerdasannya untuk korupsi, serta memamerkan auratnya untuk mencari rezeki. Alhasil, kenikmatan bisa menjadi ladang pahala bagi orang-orang yang menyadari hakikat pemberian Sang Khalik kepadanya. Mereka akan menggunakan nikmat itu dalam koridor perintah dan larangan-Nya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Tidak mungkin pula orang berakhlak mulia menggunakan mulutnya untuk mengucapkan janji palsu dan kata-kata kotor kepada manusia lainnya, serta menggunakan kedudukannya untuk menzalimi rakyat, dan sebagainya. Justru, tangan berbicara. Kemudian, kaki-kaki menjadi saksi di hadapan Allah SWT atas seluruh tindakan yang pernah kita lakukan di dunia (QS Yasin [36]: 65). Tidak ada sedikit pun kebohongan di hadapan-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah swt. Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Alloh yang diperolehnya.

Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Alloh swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Alloh melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.

Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Alloh pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta’ati aturan Alloh dalam segala aspek kehidupan

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Alloh) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.

Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Alloh, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?” (ar-Rahman: 13). Orang yang berhasil mengelola kenikmatan dari Allah SWT merupakan orang yang pandai bersyukur. Sebab, pada hakikatnya syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempatnya serta sesuai dengan kehendak pemberi. Sebaliknya, terdapat pula orang yang kufur nikmat, yaitu menyia-nyiakan dan melupakan nikmat Sang Maha Pemberi

Check Also

Waspadai Penggunaan Earphone Terlalu Lama Justru Mendorong Kotoran Telinga Masuk Kedalam

Waspadai Penggunaan Earphone Terlalu Lama Justru Mendorong Kotoran Telinga Masuk Kedalam

Kalo lagi bete .. paling enak dengerin musik, tapi kadang kalo disekitar kita lagi berisik.. ...

...