Home / Artikel Kesehatan / Bawang Putih, Harapan Baru Bagi Penderita Jantung Koroner
Bawang Putih, Harapan Baru Bagi Penderita Jantung Koroner

Bawang Putih, Harapan Baru Bagi Penderita Jantung Koroner

Penyakit jantung adalah pembunuh nomor 1 di dunia modern. Inilah alasan mengapa jutaan orang mengkonsumsi aspirin, obat tekanan darah atau statin setiap hari dengan harapan bisa mengurangi risiko kematian mendadak dan prematur. Tetapi pendekatan farmasi untuk pencegahan penyakit ini justru membawa risiko kesehatan mendalam, dalam banyak kasus, belum diketahui apakah obat-obatan ini memberikan banyak kebaikan atau jsutru bahaya.

Mengapa Obat-obatan (Paten Kimia) Tidak Bekerja

Pertama, mari kita akui bahwa penyakit jantung bukan disebabkan oleh kekurangan obat. Hal ini sangat jelas sehingga sering luput dari perhatian. Sebaliknya, penyakit ini akibat paparan puluhan ribu bahan kimia (banyaknya obat-obatan) yang tidak dikenal sebelum revolusi industri pada akhir abad ke-19.  Penyakit jantung yang sudah jadi epidemi ini disebabkan beberapa faktor seperti nutrisi dan gaya hidup (misalnya merokok) yang memang memainkan peran sangat besar dalam peningkatan jumlah penderitanya. Namun terpapar bahan kimia dan obat-obatan yang seharusnya tidak perlu ada dalam tubuh (selain penggunaan obat- obatan darurat dimana mereka dapat menyelamatkan nyawa) adalah bagian yang tidak pernah dilaporkan dari teka-teki penyebab penyakit jantung.

Aspirin, misalnya, telah dikaitkan dengan lebih dari 50 efek samping yang serius, 7 teratas di antaranya kami dokumentasikan dalam laporan kami sebelumnya, The Evidence Against Aspirin and For Natural Alternatives. Obat statin bahkan lebih buruk lagi. Tidak hanya statistik yang dimanipulasi untuk membuatnya tampak jauh lebih efektif daripada sebenarnya, namun lebih dari 300 efek kesehatan yang merugikan terkait dengan penggunaannya.

Haruskah kita terkejut?

Tubuh terdiri, molekul demi molekul, sel demi sel, dan zat alami, bukan sintetis. Oleh karena itu apa yang tidak alami dianggap oleh tubuh sebagai xenobiotik (“asing bagi kehidupan”) dan ditolak jika memungkinkan, namun penolakan ini hampir selalu mengarah ke berbagai efek samping yang merupakan akar dari banyak kondisi kesehatan yang pada gilirannya musti diobati. Dengan lebih banyak berbahan kimia untuk menekan atau menutupi gejala keracunan kimia. Ini benar-benar seperti lingkaran. Beberapa orang menyebutnya sebagai komidi putar medis.

Mengapa Bawang Putih Bisa Menyelamatkan Jantung Anda (dan Hidup Anda)

Mengingat ketidakpastian yang datang bersama hadirnya obat-obatan kimia yang pada dasarnya hanya dipatenkan seolah-olah obat ini dapat untuk “memperbaiki kesehatan” atau “mengurangi risiko penyakit”, kini pengobatan alternatif alami mendapat perhatian yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Dan memang benar begitu! Secara harfiah ribuan tahun pengalaman positif lintas budaya mengakui dan mendukung penggunaan obat-obatan alami, termasuk sejumlah penelitian ilmiah yang baru-baru ini dilakukan yang mendukungnya.

Terdapat berbagai alternatif alami untuk mengobati penyakit jantung, seperti biji delima, kunyit, dan wijen yang menunjukkan sifat kardioprotektif yang luar biasa. Bawang putih, bagaimanapun, mungkin yang paling menarik dari semuanya ini, dilihat dari sudut pandang penelitian klinis, mengingat bahwa banyak penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa bawang yang menakjubkan ini dapat mencegah dan bahkan membalik akumulasi plak di arteri. Tentu saja ini adalah tujuan dari mengobati akar penyebab penyakit, untuk mengatasi dan memperbaiki patologi yang mendasarinya, alih-alih hanya menekan gejala atau tanda pengganti risiko penyakit kardiovaskular seperti kolesterol LDL.

Studi klinis terbaru mengenai topik sifat penyembuhan penyakit jantung bawang putih baru saja dipublikasikan di jurnal Nutrition, berjudul “AAged Garlic Extract Reduces Low Attenuation Plaque in Coronary Arteries of Patients with Metabolic Syndrome in a Prospective Randomized Double-Blind Study.” Ini melihat apakah suplemen bawang putih bisa atau tidak mengurangi volume plak atenuasi rendah di arteri pasien yang menderita sindrom metabolik. Sindrom metabolik mencakup konstelasi masalah kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, dan kadar kolesterol tidak normal. Kondisi ini sangat meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung dan stroke, dan sering terjadi bersamaan dengan aterosklerosis.

Meskipun beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih (AGE) menghambat perkembangan kalsifikasi arteri koroner, pengaruhnya terhadap plak nonkalsifikasi (NCP) belum terbukti secara jelas efektif dalam uji klinis terkontrol plasebo secara acak.

Studi baru melibatkan 55 pasien dengan sindrom metabolik, dengan usia rata-rata 58,7 dan 71% pria. Mereka dibagi menjadi dua kelompok (27 diberikan secara oral dengan 2400 mg sehari bawang putih umur) dan 28 plasebo. Intervensi berlangsung rata-rata 354 hari.

Pasien dirawat dengan pengobatan moderen seperti obat aspirin, hipertensi, atau hiperlipidemia, dan tidak mengubah pengobatan selama masa studi.

Hasilnya menunjukkan penurunan yang signifikan pada plak atenuasi rendah volume (-1,5% ± 2,3%), dibandingkan dengan kenaikan 0,2% ± 2,0%, pada kelompok plasebo. Plak atenuasi rendah dikaitkan dengan risiko iskemia (menghambat suplai darah) pada aterosklerosis, sebuah faktor dalam prognosis yang lebih buruk. Kesimpulan yang jelas dari penelitian ini adalah bahwa bawang putih yang sudah tua mencegah penumpukan plak di arteri. Bila dibandingkan dengan peningkatan volume plak pada kelompok yang tidak diobati, dengan jelas intervensi tersebut memiliki implikasi menyelamatkan jiwa karena benar-benar membalikkan perkembangan aterosklerosis. Para periset menduga bahwa bawang putih memiliki sejumlah sifat terapeutik yang terjadi bersamaan untuk menstabilkan aterosklerosis. Sifat utama tersebut adalah: Efek pereduksi kolesterol Efek dilatasi pembuluh darah (penurun tekanan darah) Efek anti-inflamasi Efek antioksidan (menghambat oksidasi LDL)

sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26764322

Check Also

Mendiagnosa Penyakit Pasien Melalui Wajah

Berikut ini sebuah tulisan Dari Mookil Nam, Seorang Ahli Pengobatan Tradisonal Korea ,dalam bukunya berjudul ...

...